Gempa dan Tsunami di Sumba: Ancaman Megathrust hingga Sesar Aktif

RESPONRADIO.COM PADANG│PULAU SUMBA — Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi yang memiliki sejumlah sumber gempa berpotensi menimbulkan bencana besar. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menyebutkan bahwa kawasan selatan Sumba menghadapi ancaman gempa dari zona Megathrust Sumba dengan magnitudo maksimum mencapai 8,5. Selain itu, terdapat Sesar Waikabubak di lepas pantai barat daya dengan magnitudo maksimum 7,4 serta Sesar Bondowatu di daratan Sumba Barat yang berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 6,6.

Aktivitas gempa di wilayah Sumba tercatat cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2019 hingga 2026, setidaknya terjadi 12 gempa signifikan dengan magnitudo antara 5,0 hingga 5,9, terutama di kawasan Kodi, Sumba Barat Daya, dan sekitarnya. Gempa terbaru terjadi pada 4 Oktober 2026 dengan kekuatan magnitudo 5,9. Guncangan mencapai intensitas VI berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) dan dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan milik warga.

Daryono juga mengingatkan bahwa Sumba memiliki sejarah ancaman tsunami yang perlu diwaspadai. Salah satu peristiwa penting adalah gempa bermagnitudo momen (Mw) 8,3 pada 19 Agustus 1977 yang menjadi bukti besarnya potensi bahaya tsunami di kawasan tersebut. Menurutnya, ancaman tsunami tidak hanya bersumber dari zona megathrust, tetapi juga dapat dipicu oleh aktivitas gempa besar dari sumber bawah laut lainnya. Karena itu, kondisi tektonik Sumba perlu menjadi landasan dalam memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Untuk mengurangi risiko bencana, Daryono menekankan pentingnya pembangunan rumah dan infrastruktur yang memenuhi standar tahan gempa, penyusunan serta pemutakhiran peta bahaya tsunami, dan penyediaan jalur evakuasi beserta titik kumpul yang memadai. Selain itu, sistem peringatan dini harus diperkuat agar dapat menjangkau masyarakat secara luas, disertai latihan evakuasi secara berkala untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga. Ia menegaskan bahwa gempa bumi tidak dapat dicegah, tetapi dampak dan risikonya dapat diminimalkan melalui langkah mitigasi yang tepat.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: mediaindonesia.com