Demi Mental Anak, Orang Tua di Solok Sambut Baik Aturan Pembatasan Medsos

RESPONRADIO.COM PADANG│SOLOK  Sejumlah orang tua di Kabupaten Solok, Sumatera Barat menilai pembatasan akses media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun sangat penting untuk melindungi tumbuh kembang mereka.

Rahmi Gusniarti (32), seorang ibu rumah tangga asal Solok, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pembatasan media sosial bagi anak di bawah umur pada Senin. Menurutnya, langkah tersebut sangat tepat untuk melindungi anak-anak dari paparan konten yang tidak sesuai usia.

Rahmi turut mengapresiasi terbitnya Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan turunan dari PP TUNAS. Ia menilai langkah pemerintah dalam membatasi akses media sosial serta platform digital berisiko tinggi bagi anak di bawah usia 16 tahun merupakan kebijakan yang sangat tepat sasaran.

“Saya sangat setuju sekali. Kita sebagai orang tua memang harus melindungi anak dari tayangan medsos. Apa lagi medsos zaman sekarang parah sekali,” kata Rahmi.

Rahmi Gusniarti mengakui realitas bahwa anak-anak masa kini sulit lepas dari ketergantungan gawai. Ia menekankan bahwa fokus utama orang tua saat ini harus bergeser; bukan lagi pada pelarangan total, tetapi pada upaya aktif mengarahkan anak agar tetap terkendali dan tidak terlena saat berselancar di media sosial.

Sebagai orang tua, diakuinya selama ini sudah cukup membatasi anaknya dalam mengakses medsos.

Saat ini Rahmi masih memberikan gawai kepada anak-anaknya, tetapi dengan memberi batasan tayangan yang boleh ditonton.

Orang tua lainnya, Ahmad Efendi (33), juga setuju dengan pembatasan akses medsos bagi anak-anak karena memang rawan bagi perkembangan perilaku mereka.

“Saya juga setuju dengan adanya pembatasan bermain gawai dan medsos bagi anak. Tapi saya termasuk kurang setuju jika ada orang tua yang melarang penuh anak mereka bermain gawai. Karena zaman sekarang kita memang tidak bisa terlepas dari gawai,” ujarnya.

Menurut pandangannya, kita harus mengakui bahwa perkembangan teknologi telah mengubah gawai menjadi sumber pengetahuan yang luas. Gawai kini berfungsi sebagai alat bantu belajar yang efisien, yang jika digunakan dengan tepat, dapat mendukung proses pendidikan anak secara maksimal.

“Saya juga tidak bisa membatasi anak-anak pakai gawai, karena segala informasi dan tugas-tugas sekolah mereka ada di situ. Kalau mereka dilarang sepenuhnya, saya takut mereka malah ketinggalan informasi,” ujar dia.

Di samping itu, kata dia, konten-konten di medsos juga banyak yang edukatif membahas tentang pelajaran anak.

Saat ini, kata dia, gawai bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan juga buku pintar yang memungkinkan akses pengetahuan tanpa batas, kapan saja, dan di mana saja.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: antaranews.com