Ekonomi Iran Hancur, Mata Uang Rial Tembus Rekor Terendah

RESPONRADIO.COM PADANG│IRAN — Mata uang Iran, rial, kembali mencatat pelemahan tajam dan menembus rekor terendah baru pada Selasa (29/9/2026). Para pedagang di Teheran memperdagangkan lebih dari 2,5 juta rial untuk mendapatkan satu dolar AS. Penurunan tersebut menjadi gambaran tekanan berat yang terus dihadapi perekonomian Iran akibat konflik di Timur Tengah, setelah sebelumnya rial berada di level 2,2 juta per dolar AS pada 2 September 2026. Sejak konflik bersenjata pecah pada Februari, mata uang Iran berulang kali mencatat titik terendah baru.

Tekanan terhadap ekonomi Iran semakin besar setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi internasional. Kondisi tersebut diperburuk oleh blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap minyak Iran serta pemberlakuan sanksi baru sejak awal perang. Di tengah situasi ekonomi yang memburuk, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali Selat Hormuz semakin serius. Setelah bertemu mediator dari Pakistan dan Qatar di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, Araghchi menyebut fokus pembicaraan saat ini adalah Selat Hormuz.

Upaya mediasi tetap berlangsung meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal Iran untuk membuka kembali selat tersebut dalam waktu tujuh hari. Iran mengajukan sejumlah persyaratan, termasuk penghentian blokade pelabuhan, pelepasan aset yang dibekukan, serta pengecualian sanksi terhadap penjualan minyak. Pada Selasa, pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi terhadap 10 individu dan entitas yang berada di Iran, Hong Kong, dan Pakistan. Mereka dituding membantu pengadaan senjata bagi Kementerian Pertahanan Iran dalam konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan. Departemen Keuangan AS menyatakan langkah tersebut merupakan bagian dari Operation Economic Outcast untuk memutus jalur keuangan pemerintah Iran.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Amerika Serikat akan terus menekan pihak-pihak yang mendukung pemerintahan Iran, sedangkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Iran menghadapi risiko kehancuran ekonomi akibat kombinasi sanksi dan blokade. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui juru bicaranya, Jenderal Hossein Mohebbi, menyerukan warga Amerika Serikat untuk memprotes pemerintah mereka dan mendesak diakhirinya perang. Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pemilihan sela AS pada 3 November, ketika kenaikan harga bensin akibat konflik menjadi salah satu isu politik. Presiden Trump tetap menyatakan keyakinannya bahwa perekonomian Iran tidak akan mampu bertahan lama dan memperkirakan konflik kemungkinan berakhir setelah pemilihan umum AS.

Tim Redaktur: Respon Radio

Sumber: mediaindonesia.com