RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA — Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta Prof Susanto mengatakan mengalihkan kebiasaan anak dari kegiatan yang melulu menggunakan gawai ke arah yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang mengarahkan dan menginspirasi.
“Pengalihan kebiasaan anak ke arah yang lebih produktif, kita perlu pendekatan yang tidak sekadar melarang, tetapi mengarahkan dan menginspirasi,” kata Susanto saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Tanggapan ini muncul menyusul mulai efektifnya Permenkomdigi No. 9 Tahun 2026 pada Sabtu lalu. Aturan tersebut merupakan instrumen pelaksana dari PP Tunas yang dirancang untuk memperketat pengawasan terhadap penyelenggara sistem elektronik dalam menjaga keamanan pengguna anak.
Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017-2022 itu, salah satu langkah positif yang dapat dilakukan, yakni mendorong aktivitas berbasis minat dan bakat, seperti olahraga, seni, sains, atau kewirausahaan kecil sejak dini.
“Anak perlu merasakan kepuasan nyata di dunia offline (luring),” ujar Susanto.
Langkah lainnya, yaitu mengembangkan kegiatan berbasis proyek (project-based learning), misalnya membuat karya, menanam, atau melakukan kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Susanto mengingatkan para orang tua agar tidak hanya mengandalkan kontrol ketat dalam penggunaan teknologi. Sebaliknya, pembatasan harus dibarengi dengan pendampingan melalui dialog dan kesepakatan bersama. Ia menekankan bahwa orang tua wajib menjadi teladan (role model) digital, sebab anak-anak lebih cenderung meniru perilaku nyata daripada sekadar mendengarkan nasihat.
Di sisi lain, mengintegrasikan teknologi secara positif, misalnya menggunakan internet untuk belajar keterampilan baru, bukan hanya konsumsi hiburan, juga bisa menjadi langkah yang dilakukan oleh orang tua.
Menurut dia, keberhasilan upaya mengalihkan anak dari kegiatan yang selalu menggunakan gawai tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi juga kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
“Kita tidak sedang menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membekali mereka agar mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan jati diri. Semoga langkah ini menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi Indonesia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global,” kata Susanto.

