Pemerintah Percepat Pemanfaatan EBT Untuk Kurangi Energi Fosil

RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA  Pemerintah mempercepat pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa percepatan pembangunan PLTS hingga kapasitas 100 GW menjadi salah satu strategi utama yang tengah dijalankan pemerintah.

“Saat ini kita punya pembangkit itu masih pakai diesel, sebagian batubara, sebagian gas. Arahan Bapak Presiden agar kita tidak tergantung pada fosil, khususnya diesel, maka diarahkan untuk kita membangun PLTS 100 gigawatt,” kata Bahlil berdasarkan keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa proyek PLTS skala besar ini adalah bagian dari strategi pemerintah dalam mempercepat transisi energi dengan mengoptimalkan sumber daya alternatif domestik.

Selain tenaga surya, Bahlil menekankan bahwa optimalisasi energi baru terbarukan (EBT) juga akan mencakup pemanfaatan potensi panas bumi (geothermal) dan tenaga air.

“Nah, dengan kita memakai power plant seperti ini, maka kita tidak tergantung lagi dari luar negeri terhadap energi fosil,” ujar dia.

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan percepatan pengembangan EBT diperlukan untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

“Kita sudah punya niat untuk swasembada energi yang kita yakin akan tercapai dalam empat tahun,” kata Presiden Prabowo pada acara Syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Danantara Indonesia, di Jakarta, Rabu (11/3).

Presiden telah menugaskan Bahlil sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi guna mempercepat pemanfaatan energi bersih di dalam negeri. Ia memerintahkan percepatan pembangunan PLTS guna memperluas elektrifikasi berbasis energi terbarukan.

“Kita akan melaksanakan elektrifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita akan membangun 100 gigawatt,” kata Prabowo.

Selain fokus pada PLTS, pemerintah mendorong konversi motor listrik sebagai langkah tambahan dalam mempercepat transisi energi.

Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar berbagai sumber energi alternatif seperti panas bumi, kelapa sawit, serta biomassa dari komoditas pertanian.

Presiden mengatakan sejumlah negara menghadapi tantangan energi yang lebih berat dibandingkan Indonesia, sementara Indonesia memiliki potensi sumber energi alternatif yang melimpah seperti kelapa sawit, singkong, jagung, tebu, dan panas bumi.

“Kita punya geothermal yang sangat besar, kalau tidak salah, kedua cadangan terbesar di dunia yang belum dieksploitasi sepenuhnya” katanya.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: antaranews.com