RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA — Program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) dapat menciptakan 118.000 lapangan kerja hijau (green jobs) dan berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 24 juta tCO2eq.
“Dengan strategi implementasi yang tepat, program PLTS 100 GW dapat menyediakan listrik yang handal dan terjangkau bagi puluhan juta masyarakat dan menghemat subsidi BBM hingga Rp21 triliun,” ujar Chief Executive Officer (CEO), Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, Senin (24/2/2026).
Indonesia berpeluang untuk berubah dari negara dengan ketergnatungan pada energi fosil, menjadi pemimpin energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara. Apalagi, Indonesia memiliki potensi teknis energi surya mencapai 7,7 terawatt (TW).
Tahun lalu, Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan pengembangan PLTS 100 GW yang sangat ambisius. Ia menganggap, itu sebagai inisiatif energi terbarukan paling berani dalam sejarah bangsa Indonesia sejak kemerdekaan.
Program PLTS 100 GW terdiri dari 80 GW untuk 80.000 desa, dengan masing-masing 1 megawatt (MW). Total penyimpanan baterai 320 GW-jam dan dikelola oleh koperasi desa merah putih. Sisanya, 20 GW untuk kapasitas yang terhubung dengan jarngan listrik atau on-grid.
Target program PLTS 100 GW kini makin realistis dan tidak lagi dianggap sebagai ambisi semata. Hal ini didorong oleh efisiensi biaya produksi sel surya yang telah merosot hingga 90% dalam sepuluh tahun terakhir.
Harga semakin murah
Baterai lithium sekarang hanya berharga 70-90 dolar AS atau setara Rp 1,1-1,5 juta per kilowatt-jam. Hasilnya, energi surya plus baterai bisa lebih murah daripada pembangkit listrik tenaga gas. Bahkan, jauh lebih murah dibandingkan pembangkit listrik tenaga batu bara.
“Ini bukan sekadar energi bersih, ini adalah energi bersih yang paling ekonomis saat ini,” tutur Fabby.
IESR telah memetakan sekitar 16.700 desa masih kekurangan listrik. Keluarga-keluarga di sana masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang mahal.
Padahal, energi surya plus BESS (battery energy storage system) dapat menghasilkan listrik dengan biaya kira-kira 10-15 sen per kWh. Itu 30-60 persen lebih murah daripada listrik memakai solar.
“Ini untuk harga skala utilitas, itu bisa lebih murah lagi,” ucapnya.
Senada, Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Sunandar mengatakan, program PLTS 100 GW berpotensi membuka peluang besar bagi industri dalam negeri.
Program PLTS 100 GW dapat menciptakan kepastian pasar untuk menarik investasi manufaktur panel surya dan pengembangan rantai pasok domestik, sehingga dapat memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja.
Selain itu, program PLTS 100 GW dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyediaan energi yang mendukung kegiatan ekonomi desa. Harapnnya, produktivitas dan kesejahteraan masyarakat bisa ikut meningkat.
Menurut Sunandar, program PLTS 100 GW dapat memastikan kebutuhan energi nasional terpenuhi tanpa mengorbanka keberlanjutan lingkungan. Transisi energi melalui PLTS 100 GW bisa menjadi fondasi pertumbuhan baru.
“Kita ingin buktikan bahwa Indonesia mampu tumbuh dengan tetap menjaga intensitas karbon, sehingga pembangunan dan keberlanjutan berjalan beriringan,” ujar Sunandar.

