Ukraina Tuding Rusia Tak Berniat Hentikan Perang

RESPONRADIO.COM PADANG│Harapan meredanya konflik bersenjata antara Ukraina dan Rusia kembali diuji. Pemerintah Ukraina menuding Rusia tidak menunjukkan itikad serius untuk mengakhiri perang, setelah meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone hanya beberapa jam menjelang perundingan damai di Jenewa, Senin (16/2) malam waktu setempat.

Mengutip kantor berita internasional, Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga menyebut langkah Moskow sebagai bentuk pengabaian terhadap proses diplomasi yang tengah diupayakan berbagai pihak.

“Serangan rudal dan drone besar-besaran ini menunjukkan sejauh mana Rusia mengabaikan upaya perdamaian,” tulisnya melalui pernyataan resmi yang disampaikan kepada media.

Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan sedikitnya 29 rudal dan 396 drone ke sejumlah wilayah, dengan sasaran yang disebut mengarah pada infrastruktur penting, termasuk jaringan energi dan fasilitas logistik. Serangan tersebut terjadi menjelang pembicaraan damai yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss sebuah forum yang diharapkan dapat membuka jalan penghentian konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun.

Di sisi lain, otoritas Rusia belum memberikan keterangan rinci terkait tudingan tersebut. Moskow selama ini berulang kali menyatakan operasi militernya merupakan bagian dari kepentingan keamanan nasional.

Bagi warga Ukraina, rentetan serangan di malam hari kembali membunyikan sirene peringatan udara di berbagai kota. Sejumlah laporan menyebutkan adanya kerusakan bangunan dan gangguan pasokan listrik, meski hingga berita ini disiarkan, data korban masih dalam proses verifikasi.

Sebagai respons, militer Ukraina mengklaim meluncurkan lebih dari 150 drone ke wilayah Rusia. Namun, pihak militer Rusia menyatakan sebagian besar drone tersebut berhasil dihancurkan sebelum mencapai target.

Eskalasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa perundingan di Jenewa akan berlangsung dalam suasana tegang. Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai, serangan menjelang meja diplomasi kerap menjadi taktik untuk memperkuat posisi tawar.

“Langkah militer di menit-menit akhir sebelum negosiasi sering kali dimaksudkan untuk menunjukkan daya tekan,” ujar seorang analis keamanan Eropa Timur kepada media internasional.

Perang Ukraina Rusia bukan hanya berdampak bagi kedua negara, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi global, harga energi, serta ketahanan pangan dunia. Bagi masyarakat Indonesia, konflik ini turut berimbas pada fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian pasar internasional.

Meski demikian, komunitas internasional tetap mendorong agar kedua pihak menahan diri dan memprioritaskan dialog. Perundingan di Jenewa dinilai sebagai salah satu peluang penting untuk meredakan konflik bersenjata terbesar di Eropa dalam beberapa dekade terakhir.

Kini, dunia menanti apakah jalur diplomasi mampu meredam dentuman senjata atau justru kembali tenggelam dalam bayang-bayang eskalasi yang lebih luas. (JP)

 

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: Berbagai Sumber