Update Terkini Perundingan AS-Iran, Muncul Pernyataan Tak Terduga

RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA — Putaran terbaru perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat kembali membuka secercah harapan bagi upaya meredam krisis nuklir yang telah lama membayangi kawasan Timur Tengah. Teheran menilai pembicaraan kali ini berlangsung “lebih konstruktif” dibandingkan pertemuan sebelumnya, meski belum menghasilkan kesepakatan final.

Perundingan yang digelar di Jenewa melalui mediasi Oman itu berlangsung sekitar tiga setengah jam. Fokus utama pembahasan adalah syarat-syarat agar Iran bersedia membatasi program nuklirnya di bawah pengawasan badan inspeksi nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Belum ada pernyataan resmi dari delegasi AS. Namun, Washington diperkirakan tetap melanjutkan pengerahan kekuatan militernya di kawasan menjelang putaran berikutnya yang dijadwalkan sekitar dua pekan lagi, dengan tujuan menjembatani perbedaan posisi kedua pihak.

Perundingan ini berjalan di bawah bayang-bayang sinyal kontradiktif dari Gedung Putih. Presiden Trump mengungkapkan keyakinannya akan keinginan Iran untuk bersepakat, namun secara paradoks, ia juga menginstruksikan peningkatan kekuatan angkatan laut AS di sekitar perairan Teluk.

Di dalam negeri Iran sendiri, suasana emosional menyelimuti masyarakat. Ribuan orang menghadiri upacara peringatan 40 hari bagi korban tewas dalam gelombang protes terbaru, sesuai tradisi berkabung Syiah.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengakui bahwa sejumlah warga yang kebetulan melintas ikut menjadi korban. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, terlihat terpukul saat menghadiri upacara di Mashhad, menatap deretan foto korban yang memenuhi lokasi acara.

Abbas Araghchi selaku Menlu Iran menyatakan bahwa meskipun detail spesifik masih dibahas, kesepakatan mengenai poin-poin arahan utama sudah berhasil dicapai. Pernyataan ini memberikan sinyal positif bagi kelanjutan proses negosiasi.

“Suasana dalam putaran perundingan ini lebih konstruktif. Kemajuan yang baik telah dicapai dibandingkan dengan pertemuan pertama. Kedua pihak memiliki posisi yang membutuhkan waktu untuk saling mendekat. Jalan menuju kesepakatan telah dimulai, tetapi itu tidak berarti kita bisa segera mencapai kesepakatan,” katanya, dilansir The Guardian, Rabu (18/2/2026).

Araghchi menyebut tujuan berikutnya adalah saling bertukar teks draf kesepakatan, sebelum menetapkan tanggal pertemuan lanjutan.

Khamenei menegaskan bahwa kehadiran militer AS di perbatasan laut Iran tidak akan mampu menggoyahkan Republik Islam, sembari mengeluarkan pernyataan bernada ancaman sebagai respons atas tindakan Amerika tersebut.

Menurutnya, kapal perang memang berbahaya, tetapi “yang lebih berbahaya daripada kapal perang adalah senjata yang bisa mengirimkannya ke dasar laut”. Ia juga menegaskan Iran tidak akan terlibat dalam perundingan “bodoh” yang hasilnya sudah ditentukan, yakni melarang Iran memiliki energi nuklir.

Iran juga mengumumkan sebagian Selat Hormuz akan ditutup pada Selasa untuk latihan tembak langsung angkatan laut. Penutupan penuh jalur sempit yang dikuasai Iran itu akan berpotensi melumpuhkan arus pelayaran komersial dunia.

Sepanjang perundingan, yang putaran pertamanya berlangsung pada 6 Februari, Iran menegaskan tidak akan membahas program rudal balistik maupun dukungannya terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan. Dalam pidatonya di PBB, Araghchi menyatakan Iran tidak mencari senjata nuklir dan menekankan kesediaannya bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Sebagai gantinya, Iran menawarkan rencana untuk mengencerkan stok 40 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60%, serta memberikan akses bagi IAEA ke fasilitas nuklir yang rusak akibat pemboman. Uranium dengan tingkat pengayaan 60% mendekati kualitas senjata dan tidak dibutuhkan untuk program nuklir sipil.

Delegasi Iran dipimpin Araghchi, yang pada Senin bertemu Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi. Delegasi AS bertemu Grossi pada Selasa, menegaskan bahwa isu verifikasi menjadi pusat perundingan.

Setiap kesepakatan akan menuntut kembalinya penuh para inspektur IAEA ke fasilitas nuklir Iran. Perundingan sebelumnya di Kairo terkait protokol akses IAEA ke tiga situs nuklir utama yang dibom AS gagal mencapai kata sepakat.

Saat ini hanya segelintir inspektur IAEA yang masih berada di Iran tanpa akses detail mengenai tingkat kerusakan atau jumlah sentrifugal yang dapat segera diaktifkan kembali.

Iran juga menawarkan “pemanis” kepada Trump berupa paket kemakmuran dan pakta nonagresi antara Iran dan AS, bahkan mungkin melibatkan Israel. Trump di beberapa kesempatan menyebut hasil terbaik adalah jika Khamenei mundur, namun AS belum menunjukkan strategi konkret untuk mewujudkannya.

Trump juga belum menyatakan dukungan kepada Reza Pahlavi, putra mantan Shah, yang menawarkan diri sebagai figur transisi menuju demokrasi.

Di Iran, sebuah komite eksekutif untuk pembentukan “front penyelamatan nasional” telah dibentuk berdasarkan tiga prinsip mantan perdana menteri Mir-Hossein Mousavi, yang kini memasuki tahun ke-16 dalam tahanan rumah. Prinsip itu mencakup nonintervensi asing, penolakan terhadap despotisme internal, serta transisi demokratis dan damai.

Kelompok tersebut menyatakan visinya untuk berperan sebagai jembatan bagi masyarakat Iran dalam mewujudkan referendum yang transparan, adil, dan netral. Tujuannya adalah memberikan ruang bagi warga untuk menentukan sendiri arah sistem politik negara mereka di masa depan.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: cnbcindonesia.com