Festival Jamu Nusantara angkat budaya minum jamu bagian gaya hidup

RESPONRADIO.COM PADANG│YOGYAKARTA — Festival Jamu Nusantara yang berlangsung di Pasar Ngasem, Kota Yogyakarta, pada 4–5 Juli 2026 tidak hanya menjadi sarana promosi bagi para pelaku usaha jamu tradisional, tetapi juga menjadi upaya untuk menghidupkan kembali budaya mengonsumsi jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan festival tersebut bukan sekadar ajang memperkenalkan produk herbal tradisional, melainkan juga menjadi momentum untuk mendorong masyarakat kembali membiasakan minum jamu sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Menurut Hasto, jamu merupakan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dan memiliki beragam manfaat bagi kesehatan. Selain itu, jamu juga menyimpan potensi ekonomi yang besar apabila dikelola dan dikembangkan secara optimal.

Ia menegaskan, jamu merupakan kekayaan budaya bangsa yang harus terus dilestarikan, dikembangkan, serta diperkenalkan kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda agar tetap dikenal dan diminati.

Hasto juga menyebut salah satu keunggulan jamu tradisional terletak pada bahan-bahan yang digunakan, yang seluruhnya berasal dari alam, termasuk pewarna alami yang menjadi bagian dari racikannya.

Menurutnya, penggunaan bahan alami membuat jamu layak terus dikonsumsi dan dilestarikan. Jamu bukan hanya sekadar minuman tradisional, tetapi juga menjadi salah satu cara menjaga kesehatan tubuh secara alami.

“Keuntungan mengonsumsi jamu salah satunya adalah jamu ini menggunakan warna alam. Sehingga yang masuk ke tubuh kita ini bukan warna sintetis. Jadi sudah pasti minum jamu ini sehat,” ujar Hasto.

Di tengah semakin banyaknya pilihan minuman instan dan modern, lanjut Hasto, jamu tetap memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan manfaat kesehatan sekaligus merepresentasikan tradisi lokal yang telah mengakar di masyarakat.

Oleh sebab itu, ia menilai penyelenggaraan Festival Jamu perlu terus diperluas agar masyarakat semakin memahami manfaat jamu, bukan hanya sebagai minuman tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang tetap relevan di era modern.

Pemerintah Kota Yogyakarta berharap konsumsi jamu tidak hanya terbatas pada kalangan orang tua atau mereka yang telah terbiasa mengonsumsinya, tetapi juga mampu menarik minat generasi muda.

Menurut Hasto, regenerasi konsumen menjadi faktor penting agar budaya minum jamu tetap lestari dan mampu berkembang mengikuti perubahan tren konsumsi masyarakat.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: sumbar.antaranews.com