RESPONRADIO.COM PADANG│TURKI — Elektrifikasi menjadi salah satu fokus utama pembahasan iklim global menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB COP31 yang dijadwalkan berlangsung di Turki pada November 2026. Negara-negara peserta didorong meningkatkan penggunaan listrik hingga memenuhi 35 persen kebutuhan energi global pada 2035, dari posisi saat ini sekitar 23 persen. Target tersebut dinilai dapat dicapai melalui percepatan penggunaan teknologi listrik pada sektor transportasi, rumah tangga, bisnis, dan industri, dengan dukungan kebijakan pemerintah yang kuat.
Gejolak geopolitik dan gangguan pasokan energi akibat perang di Iran serta penutupan Selat Hormuz mendorong sejumlah negara meninjau kembali strategi keamanan energinya. Sejak Maret 2026, sekitar 25 negara dilaporkan memperkenalkan kebijakan struktural untuk mempercepat elektrifikasi. Negara berkembang seperti Brasil, Cile, Maroko, Kenya, dan Namibia juga menunjukkan kemajuan dalam transisi energi bersih, sementara Pakistan mencatat perkembangan pesat dalam pembangunan kapasitas tenaga surya.
Meski penggunaan energi terbarukan terus meningkat, pembangunan infrastruktur jaringan listrik masih menjadi tantangan utama. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan dunia membutuhkan pembangunan atau pembaruan lebih dari 80 juta kilometer jaringan listrik hingga 2040. Di Asia Tenggara, keterbatasan infrastruktur turut menghambat pengembangan energi bersih. Laporan Bain & Company dan Standard Chartered mencatat sekitar 50–60 persen proyek energi terbarukan di Vietnam, Thailand, dan Indonesia mengalami pembatalan atau penundaan sepanjang 2021–2025 akibat kendala infrastruktur.
Profesor kebijakan energi Universitas Oxford, Jan Rosenow, menegaskan bahwa pertumbuhan pesat energi terbarukan dan kendaraan listrik harus diimbangi dengan pembangunan jaringan listrik yang lebih cepat. Menurutnya, kendala infrastruktur bukan berarti transisi energi gagal, melainkan menunjukkan perlunya percepatan pembangunan jaringan agar mampu menampung peningkatan pasokan dan permintaan listrik. Penguatan infrastruktur tersebut menjadi faktor penting untuk mendukung elektrifikasi sekaligus meningkatkan ketahanan energi global di tengah ketidakpastian geopolitik.

