RESPONRADIO.COM PADANG│JEMBER, JAWA TIMUR — Petugas menyambut dengan ramah para peserta disabilitas yang mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Gedung LPMPP Universitas Jember, Jawa Timur.
Pada hari pertama pelaksanaan ujian serentak, Selasa (21/4) sesi pagi, terdapat tiga peserta penyandang disabilitas yang mengikuti UTBK SNBT 2026, yakni Yogi Ardiansyah dan Muhammad Derbian Dwi Putra (disabilitas daksa), serta Carissa Vania Artamevira (disabilitas rungu).
Panitia UTBK SNBT Universitas Jember menempatkan ketiganya di Gedung LPMPP karena fasilitas lift yang tersedia memudahkan akses menuju ruang ujian di lantai tiga bagi peserta berkebutuhan khusus.
Selain itu, gedung tersebut juga dilengkapi pusat layanan konseling dan difabel yang siap memberikan bantuan sewaktu-waktu dibutuhkan oleh peserta disabilitas.
Panitia turut menyediakan kursi roda untuk dua peserta disabilitas daksa, meskipun hanya satu yang menggunakannya saat menuju ruang ujian dengan bantuan petugas. Di dalam ruang ujian, ketiga peserta difabel mengikuti ujian bersama peserta lainnya tanpa perlakuan khusus.
Tidak ada fasilitas tambahan yang diberikan karena ketiganya dinilai mampu mengerjakan soal dengan nyaman seperti peserta lain.
Ketua Panitia UTBK SNBT Universitas Jember, Prof. Slamin, menyampaikan bahwa berbagai fasilitas telah disiapkan untuk memastikan kenyamanan peserta disabilitas, mulai dari pengaturan ruang, pendampingan petugas, hingga kemudahan akses menuju lokasi ujian.
Sebanyak 13.311 peserta mengikuti UTBK SNBT di Universitas Jember yang berlangsung pada 21–30 April 2026. Panitia menyiapkan 955 unit komputer yang tersebar di 31 ruang ujian pada 20 lokasi berbeda, dengan pelaksanaan dua sesi setiap harinya.
Ketiga peserta disabilitas mengaku tidak mengalami kendala teknis selama ujian dan merasa terbantu dengan fasilitas serta pelayanan yang diberikan oleh pihak kampus.
Yogi, yang memiliki kelainan tulang belakang sehingga kesulitan berjalan stabil, mengaku terbantu dengan bantuan petugas yang sigap mengantarnya menggunakan kursi roda menuju ruang ujian.
Ia juga menilai petugas sangat tanggap sejak awal kedatangan hingga membantu mobilitas selama di lokasi ujian.
Meski sempat mengalami kesulitan pada beberapa soal penalaran matematika, Yogi tetap mampu mengerjakan ujian tanpa hambatan berarti.
Ia bertekad melanjutkan studi di Program Studi Teknologi Informasi Universitas Jember dan bercita-cita menjadi dosen IT, terinspirasi dari para pengajar di kampus tersebut.
Selama mengikuti ujian, Yogi mengaku tidak merasa minder meskipun berada di tengah peserta lain yang tidak memiliki keterbatasan fisik, karena sebelumnya ia juga bersekolah di SMK umum.
Motivasinya untuk melanjutkan pendidikan juga diperkuat oleh para dosen Universitas Jember yang aktif memberikan semangat melalui media sosial.
Semangat serupa ditunjukkan oleh Muhammad Derbian Dwi Putra, peserta disabilitas daksa asal Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso.
Ia harus berangkat lebih pagi karena lokasi ujian berada di kabupaten lain. Setelah salat subuh, Derbian berangkat ke Universitas Jember diantar ibunya dengan sepeda motor, menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dalam kondisi udara dingin.
Derbian optimistis dapat mengerjakan soal UTBK dengan baik dan berharap diterima di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jember.
Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis serta kekagumannya terhadap penulis Tere Liye menjadi motivasi untuk menekuni bidang tersebut dan bercita-cita menjadi penulis sukses.
Ia juga menyampaikan pesan motivasi kepada sesama penyandang disabilitas agar tidak ragu mencoba dan tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah.
Sementara itu, Carissa Vania Artamevira, peserta disabilitas rungu, menggunakan alat bantu dengar untuk memahami arahan pengawas selama ujian.
Pengawas tetap melakukan pemeriksaan terhadap alat bantu tersebut menggunakan metal detector sebelum memperbolehkannya masuk ke ruang ujian, sesuai dengan aturan yang berlaku.
Setelah dipastikan alat tersebut hanya digunakan untuk membantu pendengaran, Carissa diperkenankan memakainya selama ujian berlangsung.
Saat pengarahan disampaikan secara lisan, Carissa sempat mengalami kesulitan memahami, sehingga pengawas memberikan catatan tertulis agar ia dapat membaca instruksi dengan jelas.
Meski menghadapi tantangan pada soal pengetahuan kuantitatif, Carissa tetap berusaha menyelesaikan ujian dengan maksimal karena ingin melanjutkan studi di bidang psikologi.
Ketiga peserta disabilitas tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita.
Keikutsertaan mereka dalam UTBK SNBT di Universitas Jember menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif dapat memberikan kesempatan yang setara bagi semua kalangan.
Optimisme yang mereka tunjukkan tidak hanya memotivasi diri sendiri, tetapi juga menginspirasi pentingnya lingkungan pendidikan yang terbuka, inklusif, dan ramah bagi seluruh peserta.

