Kemenkeu Optimistis Ekonomi Tumbuh Meski Ada Penutupan Di Selat Hormuz

RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA  Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu optimistis perekonomian Indonesia terus tumbuh meskipun terdapat gangguan rantai pasok komoditas akibat penutupan Selat Hormuz di tengah konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Pihaknya menyatakan bahwa Kemenkeu bakal mengimplementasikan pola belanja negara yang proporsional di setiap kuartal demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami ingin pertumbuhan ekonominya juga lebih merata di sepanjang tahun, di mana belanja negaranya juga kami buat lebih merata,” kata Febrio Kacaribu dalam Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3).

Lebih lanjut ia mengatakan Kemenkeu berupaya untuk merealisasikan anggaran belanja pemerintah dengan lebih cepat, sehingga diharapkan pertumbuhan ekonomi akan tetap terjaga untuk mencapai target peningkatan 5,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga akhir 2026.

Ia mengatakan realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari target, melonjak 41,9 persen yoy per 28 Februari lalu.

“Sisi penerimaannya juga sangat memungkinkan kami untuk melakukan (percepatan belanja) itu, (karena) pertumbuhannya untuk pajak di atas 30 persen,” kata Febrio.

Per akhir Februari 2026, Kementerian Keuangan melaporkan bahwa penerimaan pajak telah mencapai Rp245,1 triliun atau 10,4% dari target tahunan, dengan pertumbuhan sebesar 30,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).

Melalui percepatan belanja tersebut, Kemenkeu berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 cukup kuat, melanjutkan momentum pertumbuhan dari kuartal IV 2025 yang mencapai 5,39 persen yoy.

“Dengan (pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar) 5,39 persen (yoy), nanti kami harapkan (pertumbuhan) ini bisa berada di 5,5 persen atau lebih di kuartal I 2026, momentum pertumbuhan ekonomi itu juga kita harapkan terus berlanjut,” ujar dia.

Selain mengakselerasi belanja, pemerintah juga memberikan berbagai stimulus ekonomi untuk mendorong pergerakan roda ekonomi dari berbagai sektor di dalam negeri, terutama saat periode libur Idul Fitri.

Menurut Febrio, pemerintah telah merilis serangkaian insentif transportasi yang mencakup potongan harga tiket kereta api dan angkutan laut sebesar 30 persen, pembebasan tarif jasa pelabuhan secara penuh untuk penyeberangan, serta diskon tiket pesawat.

Pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan beras kepada 35 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di kategori desil I hingga IV, serta merealisasikan pembayaran THR bagi ASN senilai Rp24,7 triliun per 10 Maret 2026.

“Kami harapkan (penyaluran THR) ini juga sangat mendorong daya beli masyarakat di masa Ramadhan dan juga menjelang Idul Fitri, dan juga tentunya bagian dari (upaya meningkatkan) belanja masyarakat di kuartal I (2026) dan pertumbuhan ekonomi kuartal I (2026),” katanya menambahkan.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: antaranews.com