Teror Penembakan Massal di Sydney: Pelaku Didakwa 59 Tuntutan, Polisi Sebut Aksi Terinspirasi ISIS

RESPONRADIO.COM PADANG│SYDNEY — Kepolisian Negara Bagian New South Wales resmi mendakwa pelaku penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, Australia, dengan 59 tuntutan pidana berat, termasuk pembunuhan dan terorisme. Aksi tersebut menewaskan sedikitnya 15 orang dan mengguncang Australia serta komunitas internasional.

Pelaku bernama Naveed Akram (24) saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan pengawasan ketat aparat keamanan. Polisi menyebut Naveed menghadapi 15 dakwaan pembunuhan, 40 dakwaan melukai dengan niat membunuh, serta tuduhan terorisme.

“Polisi akan mendakwa di pengadilan bahwa pria tersebut terlibat dalam tindakan yang menyebabkan kematian, cedera serius, dan membahayakan nyawa demi memajukan tujuan keagamaan serta menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat,” demikian pernyataan resmi Kepolisian New South Wales, seperti dikutip dari Reuters.

Naveed dijadwalkan menjalani sidang perdana pada Senin (22/12) pekan depan melalui sambungan video dari rumah sakit.

Insiden berdarah ini terjadi saat perayaan Hanukkah Yahudi berlangsung di Pantai Bondi pada Minggu (14/12). Polisi mengungkapkan, Naveed melakukan aksinya bersama sang ayah, Sajid Akram (50), dengan melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga.

Dalam peristiwa tersebut, Sajid Akram tewas di tempat setelah ditembak aparat kepolisian, sementara Naveed mengalami luka tembak dan berhasil dilumpuhkan.

Pihak berwenang Australia juga mengungkap fakta baru bahwa ayah dan anak tersebut sempat melakukan perjalanan ke Filipina selatan, wilayah yang dikenal memiliki riwayat aktivitas kelompok militan, beberapa minggu sebelum serangan terjadi.

Polisi Australia meyakini aksi penembakan ini bermotif ideologi ekstrem, dengan dugaan kuat terinspirasi oleh kelompok teroris ISIS. Temuan bendera ISIS di dalam kendaraan yang digunakan pelaku semakin menguatkan dugaan tersebut.

Hingga kini, otoritas Australia masih terus mendalami jaringan, latar belakang, serta kemungkinan adanya keterkaitan pelaku dengan kelompok ekstrem lainnya, sembari meningkatkan pengamanan di berbagai lokasi publik.

 

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: www.cnnindonesia.com