3 Bulan Terjebak Perang di Selat Hormuz, 20 Ribu Pelaut Hadapi Krisis Air dan Mental

RESPONRADIO.COM PADANG│SELAT HORMUZ  Ribuan pelaut dari berbagai negara masih terjebak di kawasan Selat Hormuz setelah konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari menyebabkan jalur pelayaran strategis tersebut lumpuh. Kapten Hassan Khan, seorang pelaut asal Pakistan yang menggunakan nama samaran, mengaku dirinya dan kru kapal hidup dalam ketidakpastian selama tiga bulan terakhir di tengah ancaman rudal dan ranjau laut.

Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting bagi distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia kini tidak dapat dilalui. Suasana di kapal-kapal yang terjebak berubah drastis, dari yang sebelumnya penuh canda menjadi dipenuhi kecemasan. Khan mengatakan tekanan mental dan fisik terus dirasakan seluruh awak kapal karena situasi yang tidak kunjung membaik.

Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (IMO), sekitar 1.600 kapal tertahan di kawasan Teluk setelah Iran menutup jalur pelayaran tersebut. Salah satunya adalah kapal Banglar Joyjatra milik Bangladesh yang membawa 37.000 ton pupuk menuju Afrika Selatan. Kapten kapal itu, Shafiqul Islam, mengungkapkan bahwa upaya untuk keluar dari kawasan tersebut telah dilakukan dua kali, namun selalu gagal karena kondisi keamanan yang masih berbahaya.

Selain ancaman konflik, kapal-kapal yang tertahan juga menghadapi kesulitan memperoleh pasokan air bersih dan bahan makanan. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam, terutama di tengah suhu musim panas yang mencapai 30 hingga 45 derajat Celsius. IMO mencatat sedikitnya 11 pelaut telah meninggal dunia akibat dampak konflik. Sementara itu, sejumlah kapal dari China, India, dan Pakistan dilaporkan berhasil keluar melalui jalur diplomasi dan pembayaran biaya tertentu kepada Iran. Namun, Bangladesh membatalkan rencana serupa setelah mendapat tekanan dari Amerika Serikat yang mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang membayar biaya tersebut kepada Iran.

Tim Redaktur: Respon Radio

Sumber: mediaindonesia.com