RESPONRADIO.COM PADANG│BEIJING — Pemerintah China menyatakan dukungannya terhadap upaya mediasi yang dilakukan Pakistan bersama Arab Saudi, Turki, dan Mesir untuk meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Senin (30/3), menegaskan bahwa pihaknya mendukung segala langkah yang dapat menurunkan ketegangan, meredam eskalasi, serta membuka kembali jalur dialog. Ia juga mengapresiasi peran Pakistan dalam upaya tersebut dan mendorong negara itu untuk terus menjalankan fungsinya sebagai mediator.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyampaikan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menunjukkan kepercayaan kepada Pakistan untuk memfasilitasi kemungkinan dialog di antara kedua negara.
Dar menambahkan, Pakistan siap menjadi tuan rumah sekaligus fasilitator pembicaraan yang konstruktif dalam beberapa hari mendatang, dengan tujuan mencapai penyelesaian konflik yang menyeluruh dan berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Ia juga mengungkapkan bahwa para menteri luar negeri dari Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Turki sepakat membentuk sebuah komite yang terdiri dari empat pejabat senior kementerian luar negeri masing-masing negara untuk menyusun langkah teknis pelaksanaan melalui kesepahaman dan konsensus bersama.
Mao Ning menambahkan bahwa pihaknya menyerukan kepada semua pihak untuk segera memulai pembicaraan damai. China juga menyatakan kesiapan untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan Pakistan serta pihak terkait lainnya guna mendorong tercapainya gencatan senjata, sekaligus mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Ia menegaskan, China telah berulang kali mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan tidak memberikan keuntungan bagi siapa pun. Menurutnya, dialog merupakan satu-satunya jalan untuk mencegah bertambahnya korban dan kerugian, sekaligus menghindari meluasnya konflik.
“Kami kembali mengajak semua pihak untuk menunjukkan itikad baik, memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk mencapai perdamaian, dan mengakhiri perang yang seharusnya tidak pernah terjadi sejak awal,” ujar Mao Ning.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa hingga Senin (30/3), belum ada negosiasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa komunikasi yang terjadi sejauh ini masih terbatas pada penyampaian pesan melalui pihak perantara.
Meski demikian, pertukaran pesan tersebut dinilai mencerminkan adanya keinginan dari pihak Amerika Serikat untuk membuka jalur perundingan.
Baqaei turut mempertanyakan kredibilitas pernyataan Amerika Serikat terkait upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
“Saya tidak yakin seberapa banyak pihak di AS yang benar-benar menganggap serius klaim diplomasi tersebut. Sikap kami jelas, berbeda dengan pihak lain yang kerap berubah-ubah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pertemuan yang digelar Pakistan dilakukan secara independen, dan Iran tidak terlibat dalam agenda tersebut.
“Tidak masalah jika negara-negara di kawasan ingin menghentikan perang, namun mereka harus memahami dengan jelas siapa yang memulainya,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong jalur diplomasi dengan melibatkan mediator seperti Pakistan, Turki, dan Mesir dalam komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Meskipun situasi sempat memanas, ia menyebut pembicaraan tidak langsung dengan Iran melalui perantara dari Pakistan menunjukkan perkembangan positif, bahkan membuka peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu relatif cepat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk menguasai sumber daya minyak Iran, serupa dengan langkah Washington di Venezuela, di mana AS berupaya mengendalikan industri minyak tanpa batas waktu setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya pengerahan militer AS ke kawasan Timur Tengah, sekaligus pertimbangan operasi militer untuk mengamankan sekitar 450 kilogram uranium dari Iran, menurut sejumlah pejabat AS.
Pentagon dilaporkan menambah hingga 10.000 personel pasukan darat ke wilayah tersebut. Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa lebih dari 3.500 pasukan, termasuk sekitar 2.500 marinir, telah tiba di kawasan tersebut.
Selain itu, Pentagon juga tengah mengkaji berbagai skenario operasi, termasuk kemungkinan aksi terhadap Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran, serta operasi di pesisir Selat Hormuz untuk mengantisipasi ancaman terhadap jalur pelayaran.
Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu eskalasi konflik lebih luas dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah terdampak. Selain itu, eskalasi konflik ini juga berdampak luas dengan mengganggu pasar global dan operasional penerbangan internasional.

