RESPONRADIO.COM PADANG│MYANMAR — Fenomena cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir tidak lagi sekadar ditandai oleh kenaikan suhu global. Sejumlah negara kini menghadapi peningkatan bencana hidrometeorologi, mulai dari hujan deras, banjir bandang, tanah longsor hingga badai tropis yang merusak infrastruktur dan menimbulkan korban jiwa. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu dampak nyata dari perubahan iklim yang semakin kompleks.
Dalam laporan State of the Climate in Asia 2025, WMO mengungkapkan bahwa hujan ekstrem, meningkatnya suhu laut dan banjir besar telah memberikan dampak besar terhadap kehidupan serta perekonomian masyarakat di kawasan Asia. Kenaikan suhu permukaan laut yang signifikan menjadi salah satu faktor pemicu karena meningkatkan proses penguapan dan menyediakan lebih banyak uap air yang kemudian dapat memicu hujan dengan intensitas tinggi.
Tiongkok menjadi salah satu negara yang mengalami dampak cukup parah. Pada awal Agustus, Provinsi Gansu dilanda banjir bandang dan tanah longsor yang menyebabkan sedikitnya 25 orang meninggal dunia. Situasi tersebut juga diperburuk oleh ancaman Topan Dolphin yang mendekati wilayah Beijing dan memicu peringatan terhadap potensi banjir perkotaan serta aliran lumpur di daerah pegunungan.
Pusat Iklim Nasional Tiongkok melaporkan bahwa curah hujan di wilayah utara tercatat 20 hingga 50 persen lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Profesor Xuebin Zhang dari University of Victoria menilai perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman di masa depan bagi Tiongkok, melainkan kondisi yang sudah terjadi dan membutuhkan langkah adaptasi, termasuk penguatan infrastruktur.
India juga menghadapi kondisi serupa. Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di bagian utara dan timur laut negara tersebut dilaporkan menyebabkan sedikitnya 25 orang meninggal dunia. Kondisi tanah yang telah jenuh akibat tingginya curah hujan membuat wilayah pegunungan semakin rentan terhadap terjadinya longsor susulan.
Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan Indonesia dan negara-negara lain di kawasan Asia. Salah satu peristiwa yang menjadi perhatian adalah Siklon Senyar yang melanda wilayah Indonesia dan Malaysia pada 2025. Bencana tersebut dilaporkan menyebabkan lebih dari 1.200 orang meninggal dunia dan berdampak terhadap sekitar 10 juta orang. Selain itu, gelombang panas laut di kawasan Asia juga telah mencakup wilayah hingga sekitar 10 juta kilometer persegi.
Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana hidrometeorologi karena kondisi geografis dan pengaruh pola monsun. Menurut WMO, pengalaman dari dampak Siklon Senyar menunjukkan pentingnya sistem peringatan dini, khususnya bagi negara berkembang yang masih menghadapi keterbatasan dalam infrastruktur dan kapasitas penanganan bencana.
WMO juga memperingatkan potensi menguatnya fenomena El Nino pada paruh kedua 2026. Fenomena tersebut berpotensi meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem dengan intensitas yang lebih tinggi. Kondisi ekstrem dalam sistem monsun juga dinilai dapat muncul secara beruntun, mulai dari banjir, kekeringan hingga gelombang panas, sehingga menimbulkan dampak berantai terhadap masyarakat, lingkungan dan perekonomian.
Menghadapi kondisi tersebut, penguatan sistem peringatan dini, peningkatan ketahanan infrastruktur serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi langkah penting. Upaya tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana hidrometeorologi yang diperkirakan semakin kompleks di masa mendatang.

