RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya yang dinilai kurang tepat setelah insiden kecelakaan kereta api di Bekasi Timur, Jawa Barat.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, ia meminta maaf kepada masyarakat, khususnya para korban dan keluarga yang merasa tersinggung atau tidak nyaman akibat pernyataannya tersebut.
Arifah menegaskan bahwa keselamatan seluruh masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki, merupakan prioritas utama pemerintah. Saat ini, fokus utama adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka.
Ia juga menekankan bahwa tidak ada niat untuk mengesampingkan keselamatan penumpang lain. Menurutnya, dalam situasi duka seperti ini, perhatian utama harus tertuju pada keselamatan, penanganan korban, serta empati bagi keluarga yang terdampak.
Arifah menambahkan bahwa proses penanganan insiden telah dilakukan secara cepat, adil, dan menyeluruh. Kementerian PPPA hadir untuk memastikan hak para korban, termasuk anak-anak yang kehilangan orang tua, tetap terpenuhi melalui pendampingan psikologis, perlindungan, dan dukungan yang dibutuhkan.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memusatkan perhatian pada penanganan korban, doa, serta perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar kejadian serupa tidak terulang.
Sebelumnya, Arifah sempat mengusulkan agar gerbong khusus perempuan pada KRL dipindahkan ke bagian tengah rangkaian, menyusul kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. Usulan tersebut disampaikan usai dirinya menjenguk korban di RSUD Bekasi pada Selasa (28/4).

