Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Fisik dan Mental Manusia, Ini Kata Studi Terbaru

RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA — Gelombang panas laut atau marine heatwaves kini dinilai bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Suhu laut yang ekstrem dapat memperkuat badai, memicu ledakan alga berbahaya, mengganggu ketersediaan pangan, hingga berdampak pada kesehatan mental warga pesisir.

Penelitian dari Adelaide University dan University of Hong Kong menyebut fenomena tersebut perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat. Salah satu dampaknya terlihat pada penguatan Badai Otis di Meksiko pada 2023 yang menyebabkan kerugian diperkirakan lebih dari US$15 miliar. Topan Doksuri pada tahun yang sama juga berdampak terhadap lebih dari dua juta orang di berbagai wilayah Asia.

Di Australia Selatan, kondisi laut yang sangat panas turut memicu ledakan alga berbahaya yang dikaitkan dengan gangguan kesehatan, seperti iritasi saluran pernapasan dan asma. Para peneliti juga mencatat gelombang panas laut dapat mengurangi populasi ikan dan hasil laut, mengancam sumber pangan serta mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan dan akuakultur.

Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik dan ekonomi, tetapi juga secara psikologis. Kerusakan ekosistem laut dapat memicu stres, kesedihan, frustrasi, depresi, hingga eco-anxiety, terutama pada masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan laut. Kondisi tersebut tercatat dalam peristiwa ledakan alga beracun di Australia Selatan pada 2025.

Para peneliti mendorong pemerintah dan lembaga kesehatan memasukkan prakiraan gelombang panas laut dalam strategi mitigasi, seperti halnya penanganan gelombang panas di daratan. Kolaborasi antara ilmuwan kelautan dan pengelola sumber daya juga dinilai penting untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

Dr. Laura Falkenberg dari Adelaide University menegaskan bahwa pengakuan terhadap dampak kesehatan akibat gelombang panas laut menjadi langkah awal untuk melindungi masyarakat. Upaya antisipasi perlu dilakukan lebih cepat karena fenomena tersebut diperkirakan semakin sering dan intens akibat perubahan iklim.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: mediaindonesia.com