RESPONRADIO.COM PADANG│NEPAL — Banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tiongkok memicu krisis kemanusiaan dengan jumlah korban yang terus bertambah. Otoritas Nepal pada Minggu mencatat sedikitnya 781 orang meninggal dunia dan 2.502 lainnya masih hilang setelah operasi pencarian memasuki hari kelima.
Di Tibet, Tiongkok, media pemerintah melaporkan 16 orang tewas dan 546 lainnya belum ditemukan. Jika digabungkan, bencana tersebut telah menewaskan sedikitnya 797 orang, sementara 3.048 orang masih dinyatakan hilang. Di Nepal, daftar korban hilang juga mencakup ratusan warga asing serta pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air yang berada di sepanjang sungai terdampak banjir.
Distrik Rasuwa menjadi salah satu wilayah Nepal yang mengalami dampak terparah dengan 562 orang masih hilang. Sementara itu, otoritas India menemukan tujuh jenazah di sungai yang mengalir dari Nepal dan diduga berkaitan dengan bencana tersebut, meski belum masuk dalam data resmi kedua negara.
Banjir juga berdampak pada sektor pendidikan Nepal. Sedikitnya 19 sekolah di tiga distrik terdampak, dengan sembilan bangunan hancur total dan tujuh lainnya rusak sebagian. Lebih dari 200 siswa dilaporkan hilang dan sekitar 20 lainnya terseret arus. Sebuah bus sekolah bahkan dilaporkan ikut terbawa banjir.
Kerusakan paling parah terjadi di Distrik Rasuwa dan Nuwakot yang sebelumnya menjadi tempat belajar bagi sekitar 2.425 siswa. Sejumlah sekolah terendam banjir atau tertimbun lumpur. Kondisi medan yang sulit, ditambah kerusakan jalan dan jembatan serta musim hujan, membuat proses evakuasi dan pencarian korban semakin sulit.
CEO All Hands & Hearts, Nate Mook, mengatakan timnya menemukan kerusakan yang sangat parah di sejumlah permukiman. Ia menilai koordinasi antara lembaga kemanusiaan dan pemerintah Nepal sangat diperlukan agar bantuan dapat disalurkan secara cepat dan efektif.
Menurut Mook, pengalaman timnya dalam menangani gempa besar Nepal pada 2015 turut membantu proses respons bencana. Sejumlah anggota tim yang pernah menjadi penyintas gempa kini dapat berkomunikasi langsung dengan warga terdampak karena memahami trauma dan kondisi yang mereka alami.

