RESPONRADIO.COM PADANG│PANGANDARAN — Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 4,2 mengguncang wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, pada Selasa (5/5) sekitar pukul 05.14.40 WIB. Titik gempa berada di koordinat 8,1 Lintang Selatan dan 107,87 Bujur Timur, atau sekitar 81 kilometer barat daya Pangandaran, dengan kedalaman mencapai 21 kilometer.
Deni Nugraha (40), warga Kecamatan Parigi, menyampaikan bahwa getaran gempa di Pangandaran terasa hingga ke dalam rumah. Ia mengatakan, sejumlah tetangga sempat berlarian keluar sambil membawa anak-anak untuk menyelamatkan diri. Guncangan tersebut mengejutkan keluarganya yang baru saja selesai melaksanakan salat subuh, meskipun tidak menimbulkan korban di lingkungan mereka.
“Getaran gempa cukup terasa hingga membuat warga sekitar panik dan keluar rumah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, apalagi mengingat kejadian serupa tahun lalu. Namun setelah situasi mereda, kami bersama tetangga kembali masuk ke rumah. Sementara itu, kondisi air laut juga tetap normal,” ujar Deni Nugraha, Selasa (5/5/2026).
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Abdul Azis Riswandi, menyampaikan bahwa gempa berkekuatan magnitudo 4,2 yang berpusat di wilayah Pangandaran dengan kedalaman 21 kilometer tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hingga saat ini, pihaknya juga belum menerima laporan adanya kerusakan bangunan di wilayah Tasikmalaya akibat peristiwa tersebut.
Ia menjelaskan, relawan BPBD masih melakukan pengecekan ke sejumlah lokasi pascagempa yang dirasakan warga, khususnya di Kecamatan Puspahiang dan Cipatujah. Meskipun getaran terasa hingga Tasikmalaya, kondisi gelombang laut di wilayah Cipatujah dilaporkan tetap normal.
Sementara itu, berdasarkan analisis BMKG, gempa di Pangandaran memiliki magnitudo terbaru 4,2 dengan episenter berada pada koordinat 8,1 Lintang Selatan dan 107,87 Bujur Timur, atau sekitar 81 kilometer barat daya Pangandaran, Jawa Barat, dengan kedalaman 21 kilometer.
BMKG juga menyebutkan bahwa gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas di bawah laut, dilihat dari posisi episenter dan kedalaman hiposenternya.

