SATP Dorong Kreativitas Siswa Melalui Pembelajaran Sains Berbasis Edupreneur

RESPONRADIO.COM PADANG│TIMIKA    Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, menerapkan pembelajaran sains berbasis data yang terintegrasi dengan kewirausahaan (edupreneurship) melalui budi daya hidroponik.

Kepala SATP Sonianto Kuddi menyatakan di Timika, Papua Tengah, pada hari Rabu, bahwa program ini memberikan kontribusi positif dalam mengembangkan daya kritis siswa. Selain itu, kegiatan tersebut memotivasi pelajar untuk mendalami proses ilmiah yang dimulai dari observasi langsung hingga tahap pengolahan data.

“Anak-anak belajar bahwa setiap informasi harus didasarkan pada data, sehingga mereka tidak mudah percaya tanpa bukti,” katanya.

Sonianto memaparkan bahwa para siswa dibimbing untuk melakukan penelitian sederhana melalui pengamatan tanaman hidroponik, termasuk pengukuran tinggi, penyebaran daun, hingga durasi tumbuh. Hasil pengamatan tersebut kemudian dikonversi ke dalam format tabel dan grafik guna dijelaskan sebagai landasan dalam menarik kesimpulan ilmiah.

Program sains berbasis data ini dikolaborasikan dengan inisiatif edupreneurship di bawah naungan UPT Edupreneur SATP. Tujuannya adalah membekali siswa dengan fondasi kewirausahaan, mulai dari kemampuan menganalisis modal dan perkiraan waktu panen, hingga perhitungan potensi laba serta mitigasi risiko kerugian bisnis.

“UPT Edupreneur sudah berjalan dua tahun dan menghasilkan pendapatan sekitar Rp200 juta. Dana itu dimanfaatkan untuk mendukung pembiayaan lomba sains tingkat kabupaten serta keberangkatan siswa mengikuti kompetisi di Jakarta dan Yogyakarta,” kata dia.

Ia menyebut produk sayuran hidroponik yang dihasilkan berupa pakcoy dan selada. Hasil panen dipasarkan melalui kerja sama dengan kontraktor pemasok kebutuhan sayuran PT Freeport Indonesia, dengan rata-rata produksi 100 kilogram satu kali panen dengan harga jual sekitar Rp50.000 per kilogram.

Lokasi rumah kaca ini menempati lahan seluas 40,25 meter persegi yang dilengkapi dengan 20 meja tanam , di mana masing-masing meja menampung 100 lubang tanam . Untuk menjaga produktivitas, pengelolaan dilakukan melalui sistem tanam bergilir yang memungkinkan aktivitas panen berlangsung secara rutin setiap dua minggu sekali.

“Semua fasilitas hidroponik kami kelola berkelanjutan supaya bisa panen setiap dua minggu sekali,” ujarnya.

Elpianus Paat, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Taruna Papua, mengungkapkan bahwa program hidroponik ini diinisiasi setelah seorang pakar dari PT Freeport Indonesia meninjau langsung implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SATP.

Diskusi berlanjut hingga mendatangkan tenaga ahli hidroponik, Okto Magai, yang membangun greenhouse beserta seluruh perlengkapan dan peralatan dengan pendanaan pribadi. Okto Magai juga melibatkan sejumlah karyawannya untuk memberikan pelatihan kepada siswa dan guru SATP.

“Setelah satu hingga dua bulan pendampingan, siswa dilepas untuk mengelola sendiri. Namun kerja sama tetap berjalan, dan seluruh hasil panen dijual kembali ke mitra, yakni PT Namo Jaya Timika,” ujarnya.

Ia mengatakan sebagian besar kebutuhan proyek hidroponik masih dapat diperoleh di wilayah Timika, seperti bibit dan pupuk AB mix khusus tanaman hidroponik.

Kendala utama, menurut dia, ketersediaan plastik UV yang sering habis di pasaran lokal sehingga harus dikoordinasikan dengan yayasan pusat di Jakarta menggunakan dana hasil usaha.

Selain hidroponik, siswa juga melakukan penanaman di bedeng-bedeng pertanian di lingkungan sekolah, seperti terong dan tanaman lainnya, sebagai bahan perbandingan metode tanam.

Pihak sekolah berharap agar keterampilan yang dikuasai siswa dapat diimplementasikan pasca-kelulusan. Minimal, keahlian tersebut mampu mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus bertransformasi menjadi unit usaha mandiri yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar mereka.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: antaranews.com