Bapanas sebut 5.597 gerakan pangan murah dilakukan guna tekan inflasi

RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA  Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat telah melaksanakan sebanyak 5.597 Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah selama Januari hingga Juni 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas harga pangan, mengendalikan inflasi, sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat.

Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan program tersebut telah digelar di 37 provinsi dan 378 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

“Tercatat sepanjang Januari hingga Juni 2026, Gerakan Pangan Murah telah dilaksanakan sebanyak 5.597 kali di 37 provinsi dan 378 kabupaten/kota,” ujar Amran dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Bapanas mengungkapkan tiga provinsi dengan jumlah pelaksanaan GPM terbanyak adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sementara itu, Provinsi Papua Pegunungan menjadi satu-satunya daerah yang belum menyelenggarakan program tersebut.

Melalui pelaksanaan GPM, pemerintah berupaya memastikan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, telur, minyak goreng, gula, bawang, serta komoditas pangan strategis lainnya tersedia bagi masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau.

Keberhasilan pelaksanaan GPM di berbagai daerah, menurut Amran, tidak lepas dari sinergi pemerintah daerah bersama BUMN pangan seperti Perum Bulog dan ID FOOD yang berperan menjaga ketersediaan stok bahan pokok. Program ini juga mendapat dukungan dari TNI, Polri, pelaku usaha swasta, hingga berbagai asosiasi.

Amran menegaskan ketahanan pangan nasional saat ini semakin kuat karena pasokan pangan didominasi hasil produksi petani dan peternak dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap impor dapat ditekan. Kondisi tersebut turut membantu menjaga inflasi pangan tetap terkendali tanpa mengganggu keseimbangan harga di tingkat produsen maupun konsumen.

Ia optimistis berbagai langkah tersebut akan terus berlanjut sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Indonesia Emas. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang menjadi negara maju yang mampu bersaing dengan negara-negara besar di dunia.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pangan secara tahunan pada Juni 2026 turun menjadi 5,58 persen dibandingkan 6,24 persen pada Mei 2026. Angka tersebut semakin mendekati sasaran inflasi pangan tahunan pemerintah yang berada pada kisaran 3 hingga 5 persen.

Secara bulanan, inflasi pangan juga mengalami penurunan dari 0,22 persen pada Mei menjadi 0,14 persen pada Juni 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan komoditas yang paling besar menyumbang inflasi bulanan adalah bawang merah, bawang putih, dan beras.

Untuk inflasi tahunan, komoditas yang memberikan kontribusi terbesar antara lain beras, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, serta bawang merah.

Selain itu, inflasi pangan berdasarkan tahun kalender (year-to-date/ytd) juga menunjukkan perbaikan. Selama Januari hingga Juni 2026, inflasi pangan ytd tercatat sebesar 1,61 persen atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2,15 persen. Penurunan tersebut mencerminkan kondisi harga pangan nasional yang semakin stabil pada semester pertama 2026, meskipun inflasi pangan sepanjang tahun 2025 sempat ditutup pada level 6,21 persen.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: antaranews.com