Bocah 11 Tahun di Kanada Meninggal Usai Wajahnya Dihinggapi Kelelawar

RESPONRADIO.COM PADANG│KANADA  Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun di Ontario, Kanada, meninggal dunia setelah terinfeksi rabies yang diduga berasal dari seekor kelelawar yang sempat menempel di wajahnya saat ia tertidur. Peristiwa tragis tersebut terjadi ketika korban sedang menghabiskan masa liburan bersama keluarganya di sebuah cottage pada 2024.

Laporan yang dipublikasikan dalam Canadian Medical Association Journal pada Senin (6/7) mengungkapkan, kejadian bermula ketika anak tersebut terbangun dan mendapati seekor kelelawar berada di area hidung dan mulutnya. Ia segera mengusir hewan itu, sementara sang ayah menangkap kelelawar menggunakan sebuah panci sebelum kemudian melepaskannya kembali ke alam liar.

Karena tidak menemukan bekas gigitan, luka, maupun perilaku yang dianggap tidak biasa pada kelelawar tersebut, orang tua korban memutuskan untuk tidak membawa anaknya menjalani pemeriksaan medis. Keputusan itu kemudian berujung fatal, mengingat virus rabies dapat menular meski hanya melalui kontak yang sangat ringan.

Sekitar 19 hari setelah kejadian, korban mulai mengalami mati rasa dan pembengkakan pada wajah. Pada pemeriksaan awal, dokter menduga ia mengalami Bell’s palsy atau kelumpuhan sementara pada otot wajah sehingga diberikan obat antivirus untuk herpes. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, diagnosis berubah menjadi herpes gingivostomatitis, yaitu infeksi pada mulut dan gusi.

Seiring waktu, kondisi korban terus memburuk. Ia mengalami demam hingga 39 derajat Celsius, kesulitan menelan, kebingungan, halusinasi visual, hingga akhirnya mengalami gagal napas. Hasil pemeriksaan laboratorium kemudian memastikan bahwa korban terinfeksi rabies varian kelelawar, sebagaimana dikonfirmasi oleh Badan Inspeksi Makanan Kanada.

Meski telah menjalani perawatan intensif di unit ICU selama 17 hari, nyawa bocah tersebut tidak dapat diselamatkan. Tim dokter dari Departemen Pediatri dan Kesehatan Anak Universitas Manitoba menegaskan bahwa rabies hampir selalu berakibat fatal apabila gejala klinis sudah mulai muncul.

Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mengabaikan kontak langsung dengan kelelawar maupun hewan yang berpotensi membawa virus rabies. Para ahli menekankan pentingnya pemberian post-exposure prophylaxis (PEP) atau profilaksis pascapajanan sesegera mungkin setelah terjadi paparan, meskipun tidak ditemukan bekas gigitan atau luka. Vaksinasi segera dinilai sebagai langkah paling efektif untuk mencegah virus menyebar ke sistem saraf pusat dan menyebabkan akibat yang fatal.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: mediaindonesia.com