El Nino Menguat, BMKG Prediksi Hujan Makin Jarang hingga 17 Agustus 2026

RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami penurunan frekuensi hujan pada 11-17 Agustus 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penguatan fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang membuat atmosfer Indonesia semakin kering.

BMKG mencatat hingga akhir Juli 2026, sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia atau setara dengan 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki periode musim kemarau. Pada dasarian III Juli, sekitar 76,3 persen wilayah Indonesia tercatat mengalami curah hujan di bawah kondisi normal. BMKG menyebut kondisi kering tersebut diperkirakan semakin terasa seiring dengan mendekatnya puncak episode El Nino.

Penguatan El Nino tercermin dari anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 yang telah melampaui 2 derajat Celsius dan masuk dalam kategori kuat. Di saat yang sama, indeks IOD masih berada pada posisi positif dengan nilai 0,63. Kombinasi kedua fenomena tersebut diperkirakan membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dibandingkan kondisi normal.

BMKG memprediksi kondisi kering akan berlanjut hingga dasarian II Agustus. Curah hujan kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian, diperkirakan mendominasi 95,62 persen wilayah Indonesia. Sementara itu, sekitar 4,38 persen wilayah lainnya berpotensi mengalami curah hujan kategori menengah. Meski demikian, BMKG menegaskan hujan masih berpeluang turun akibat pengaruh dinamika atmosfer regional yang dapat memicu pembentukan awan hujan secara lokal.

Pada periode 11-14 Agustus, hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua. Sedangkan pada 15-17 Agustus, wilayah yang berpeluang mengalami hujan sedang meliputi Aceh, Sumatra Barat, Riau, Papua Pegunungan, dan Papua.

Selain potensi hujan, BMKG juga mengingatkan adanya peluang angin kencang pada kedua periode tersebut. Angin kencang berpotensi melanda sejumlah wilayah, di antaranya Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan.

BMKG turut memperingatkan potensi angin permukaan dengan kecepatan lebih dari 25 knot di sejumlah wilayah perairan. Kondisi tersebut dapat memicu peningkatan tinggi gelombang sehingga perlu menjadi perhatian bagi pelaku pelayaran dan masyarakat yang melakukan aktivitas di laut.

Menghadapi kondisi kemarau yang semakin dominan, BMKG mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan tubuh serta menggunakan pelindung diri atau tabir surya ketika beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat bersama pemerintah daerah juga diminta menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan metode pembakaran, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan. Di sisi lain, masyarakat tetap perlu mewaspadai hujan lokal yang sewaktu-waktu dapat disertai petir dan angin kencang. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan air, hingga sambaran petir.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: mediaindonesia.com