Dipicu Kekeringan Parah, Panama dan El Salvador Tetapkan Status Darurat El Nino

RESPONRADIO.COM PADANG│PONTIANAK — Panama dan El Salvador secara resmi menetapkan status darurat sebagai langkah menghadapi ancaman kekeringan ekstrem yang dipicu oleh fenomena cuaca El Nino. Keputusan tersebut diambil setelah Honduras lebih dahulu mengeluarkan peringatan serupa. Kondisi ini semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan munculnya krisis pangan di kawasan Amerika Tengah.

Menteri Dalam Negeri Panama, Dinoska Montalvo, mengatakan penetapan status darurat bertujuan agar pemerintah dapat melakukan langkah antisipasi terhadap berbagai dampak yang mungkin ditimbulkan oleh krisis air. Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan untuk mempersiapkan seluruh pihak menghadapi konsekuensi dari fenomena El Nino.

Kekeringan yang terjadi di Panama telah mengakibatkan penurunan volume air secara drastis. Kondisi tersebut bahkan berdampak pada operasional Terusan Panama, sehingga pengelola harus mengurangi kapasitas serta jumlah kapal niaga yang melintas di jalur perdagangan internasional tersebut.

Pada hari yang sama, El Salvador juga menetapkan status siaga tertinggi atau red alert. Status tersebut diberlakukan untuk meningkatkan kegiatan pemantauan dan pengawasan sekaligus mempercepat distribusi bantuan kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Badan Perlindungan Sipil El Salvador menyatakan bahwa peringatan merah diberlakukan akibat kekeringan meteorologis dan pertanian yang terjadi di seluruh wilayah negara tersebut.

Minimnya curah hujan di El Salvador, yang pada periode tersebut biasanya cukup tinggi, telah memberikan dampak besar terhadap produksi tanaman pangan. Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Pertanian El Salvador menyiapkan bantuan pangan bagi keluarga di wilayah pedesaan, terutama masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap sistem irigasi.

Sejumlah wilayah administratif di El Salvador termasuk dalam Central American Dry Corridor atau Koridor Kering Amerika Tengah. Kawasan yang juga mencakup sebagian wilayah Honduras dan Nikaragua itu merupakan daerah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan dan cuaca ekstrem.

El Nino merupakan fenomena cuaca alami yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik. Fenomena tersebut dapat mengubah pola angin dan distribusi curah hujan di berbagai wilayah dunia serta berkontribusi terhadap peningkatan suhu global. El Nino umumnya muncul dalam rentang dua hingga tujuh tahun sekali, tetapi episode kali ini disebut sebagai salah satu yang paling kuat dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, Honduras telah menetapkan status siaga di sekitar 80 persen wilayahnya. Panama, El Salvador, dan Honduras juga mencatat rekor suhu bulanan tertinggi selama Juni dan Juli. Di El Salvador sendiri, sebanyak 14 rekor suhu panas tercatat terlampaui sepanjang Agustus.

Dampak El Nino tidak hanya dirasakan di Amerika Tengah, tetapi juga menjalar ke Amerika Selatan. Pada pekan sebelumnya, Pemerintah Peru menetapkan status darurat di sekitar sepertiga wilayah negaranya karena menghadapi ancaman gelombang panas serta hujan dengan intensitas tinggi yang dikhawatirkan dapat mengganggu rantai produksi pangan nasional.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: mediaindonesia.com