IDAI beri rekomendasi pencegahan dampak abu vulkanik pada anak

RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk melindungi anak dari dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Imbauan tersebut mencakup langkah evakuasi, cara membersihkan abu, penggunaan alat pelindung diri, hingga persiapan obat-obatan bagi anak dengan kondisi kesehatan tertentu.

Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Material tersebut berasal dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang berukuran sangat halus, tetapi memiliki permukaan tajam dan abrasif. Ketika terhirup, partikel abu dapat mengiritasi bahkan melukai saluran pernapasan.

Selain partikel vulkanik, abu juga dapat membawa gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO). Paparan material tersebut berpotensi memperburuk iritasi serta memicu peradangan pada sistem pernapasan anak.

Karena itu, IDAI menekankan agar keselamatan anak menjadi prioritas selama kondisi darurat akibat erupsi. Orang tua diminta menjauhkan anak dari wilayah terdampak dan mengungsikannya ke tempat yang lebih aman apabila diperlukan.

Jika kualitas udara di lingkungan memburuk, terutama ketika nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di atas 100, anak dianjurkan tetap berada di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat. Saat membersihkan abu, anak sebaiknya dijauhkan dari lokasi pembersihan. Pembersihan dapat dilakukan menggunakan kain atau lap basah maupun membasahi permukaan terlebih dahulu agar abu tidak kembali beterbangan.

Orang tua juga disarankan mematikan perangkat yang memasukkan udara dari luar, seperti pendingin ruangan, atau menggunakan mode sirkulasi udara di dalam ruangan. Kipas angin sebaiknya tidak dinyalakan karena dapat membuat partikel abu yang telah mengendap di lantai atau furnitur kembali beterbangan dan berisiko terhirup.

Untuk anak berusia di atas dua tahun, penggunaan masker khusus anak dianjurkan dengan memastikan masker terpasang secara tepat. Anak juga dapat diberikan kacamata pelindung serta pakaian tertutup untuk mengurangi paparan abu terhadap mata dan kulit.

Bagi anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran pernapasan, orang tua diminta menyiapkan obat-obatan rutin. Anak juga perlu dijauhkan dari sumber polusi tambahan di dalam rumah, seperti asap rokok dan asap dari aktivitas memasak. Asupan cairan yang cukup juga penting untuk mencegah dehidrasi.

IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami tanda-tanda gangguan pernapasan, seperti frekuensi napas meningkat, adanya tarikan dinding dada ke dalam, atau kadar saturasi oksigen berada di bawah 94 persen berdasarkan pemeriksaan menggunakan oksimeter.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung sejak 4 September 2026 dan kini berstatus Siaga atau Level III telah menyebabkan abu vulkanik menyebar hingga Jabodetabek, Banten, Lampung, serta sebagian Jawa Barat. Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas vulkanik gunung tersebut masih tinggi dan belum menunjukkan tren penurunan.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI Wahyuni Indawati menjelaskan paparan abu vulkanik dapat menyebabkan sejumlah gangguan pernapasan akut. Keluhan yang umum terjadi antara lain bersin, batuk, pilek, iritasi saluran napas, hingga sesak napas.

Menurutnya, anak dengan riwayat asma, alergi, maupun penyakit paru kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan akut atau perburukan kondisi setelah terpapar abu vulkanik. Kelompok rentan lainnya mencakup bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak yang memiliki penyakit jantung bawaan.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: antaranews.com