RESPONRADIO.COM PADANG│SIJUNJUNG — Mahyeldi Ansharullah turun langsung menemui warga sekaligus meninjau aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di kawasan Batu Gando, Nagari Muaro, Kabupaten Sijunjung, Selasa (19/5/2026). Kunjungan tersebut dilakukan setelah kembali terjadinya kecelakaan tambang ilegal yang menyebabkan korban jiwa di wilayah itu.
Didampingi Wakil Bupati Sijunjung dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Mahyeldi melihat langsung aktivitas tambang emas yang menggunakan ratusan box talang di atas ponton di sepanjang aliran sungai. Dalam kesempatan itu, gubernur juga berdialog dengan para penambang terkait legalitas kegiatan yang mereka jalankan.
Mahyeldi menegaskan kepada para penambang agar segera mengurus perizinan apabila aktivitas yang dilakukan belum memiliki izin resmi. Ia menyebut pemerintah telah menyiapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) guna mendukung penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) agar kegiatan tambang masyarakat dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Mahyeldi Ansharullah menegaskan pemerintah tidak ingin masyarakat mencari penghidupan dengan cara yang membahayakan keselamatan diri maupun merusak lingkungan sekitar.
“Kita tidak ingin masyarakat mencari nafkah dengan cara yang membahayakan diri sendiri dan merusak lingkungan,” kata Mahyeldi.
Dalam peninjauan tersebut, gubernur juga menemukan masih banyak aktivitas tambang serupa yang beroperasi di sejumlah titik lain di sekitar kawasan sungai. Hal itu menunjukkan praktik penambangan ilegal masih berlangsung secara masif di wilayah Sijunjung.
Setelah meninjau lokasi tambang aktif, Mahyeldi melanjutkan kunjungan ke lokasi longsor tambang ilegal di Sintuk, Jorong Koto Guguk, Nagari Guguk, Kecamatan Koto VII, yang pada Rabu (13/5/2026) menyebabkan sembilan penambang emas meninggal dunia.
Musibah tersebut terjadi saat para pekerja tengah melakukan aktivitas penambangan di area tanpa izin. Longsor mendadak menimbun para penambang, sementara banjir di aliran sungai sekitar lokasi turut menghanyutkan puluhan ponton dan peralatan tambang milik warga.
Sebanyak sembilan penambang dilaporkan tewas dalam kejadian tersebut.
Mahyeldi kemudian mendatangi rumah duka salah seorang korban bernama Madi (24), warga Jorong Koto, Nagari Padang Laweh, untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban.
Di hadapan keluarga korban, Mahyeldi menekankan bahwa tragedi tersebut harus menjadi pembelajaran bersama agar keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama.
“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Pemerintah ingin masyarakat tetap dapat bekerja, namun dengan cara yang legal dan aman,” ujarnya.

