Protein Tubulin Berpotensi Hentikan Alzheimer dan Parkinson

RESPONRADIO.COM PADANG│JAKARTA  Para ilmuwan menemukan sebuah protein yang dinilai memiliki potensi untuk menghambat perubahan pada otak yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan Parkinson. Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan terapi untuk penyakit neurodegeneratif yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di dunia medis.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications tersebut mengungkap bahwa protein tubulin, yang berperan sebagai penyusun jalur transportasi internal sel, ternyata mampu mencegah terbentuknya gumpalan protein berbahaya di dalam sel otak. Alzheimer diketahui berkaitan dengan penumpukan protein tau, sedangkan Parkinson berhubungan dengan protein alpha-synuclein. Kedua protein tersebut dapat mengalami perubahan bentuk dan menumpuk menjadi agregat beracun yang merusak neuron, sehingga menyebabkan gangguan memori, penurunan kemampuan berpikir, hingga masalah pada fungsi gerak.

Selama ini, penelitian pengobatan penyakit neurodegeneratif banyak berfokus pada cara menghentikan atau membersihkan gumpalan protein tersebut. Namun, studi terbaru menawarkan pendekatan berbeda, yaitu menjaga agar protein tetap berfungsi normal tanpa harus menghilangkannya secara keseluruhan.

Tim peneliti dari Baylor College of Medicine menemukan bahwa tubulin dapat berinteraksi dengan protein tau dan alpha-synuclein di dalam struktur kecil sel bernama kondensat. Ketika jumlah tubulin mencukupi, protein tersebut akan masuk ke dalam kondensat dan bersaing dengan protein berbahaya untuk mempertahankan kondisi yang stabil. Sebaliknya, jika kadar tubulin menurun, struktur tersebut dapat berubah dan memicu terbentuknya gumpalan protein yang merusak.

Dalam pengujian menggunakan model sel, berkurangnya kadar tubulin terbukti meningkatkan penumpukan protein berbahaya serta menyebabkan lebih banyak neuron mengalami kerusakan. Hasil penelitian ini berpotensi mengubah strategi pengobatan penyakit neurodegeneratif di masa depan, dari pendekatan menghancurkan endapan protein menjadi upaya mengarahkan protein agar tetap bekerja secara normal.

Salah satu peneliti, Bishnoi, menjelaskan bahwa fokus baru bukan lagi hanya mencari cara melarutkan agregat tau, melainkan mempertahankan kadar tubulin agar mampu menjaga keseimbangan dalam sel. Pendekatan ini dikenal sebagai konsep redirect rather than demolish atau mengarahkan, bukan menghancurkan.

Meski menjanjikan, para ilmuwan menyebut penelitian ini masih berada pada tahap awal karena baru diuji melalui eksperimen laboratorium dan model sel. Tahap berikutnya diperlukan penelitian pada hewan serta uji klinis pada manusia. Tantangan terbesar adalah menemukan obat yang dapat mengatur fungsi mikrotubulus secara aman, karena struktur tersebut memiliki peran penting bagi hampir seluruh sel tubuh.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: mediaindonesia.com