AS Cabut Blokade Laut Usai Sepakati Perdamaian dengan Iran

RESPONRADIO.COM PADANG│AMERIKA SERIKAT  Amerika Serikat secara resmi mencabut blokade angkatan laut terhadap Iran setelah kedua negara mencapai kesepakatan untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyampaikan bahwa penghentian blokade dilakukan berdasarkan arahan Presiden melalui platform X, meskipun beberapa kapal perang Amerika Serikat masih disiagakan di sekitar wilayah tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei untuk pertama kalinya memberikan tanggapan sejak menjabat pada Maret lalu. Ia menyatakan telah menyetujui kesepakatan dengan Amerika Serikat, walaupun masih terdapat sejumlah perbedaan sikap antara Teheran dan Washington.

Menurut Khamenei, persetujuan tersebut diberikan setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian memastikan bahwa hak serta kepentingan Iran tetap terlindungi. Ia menegaskan kemungkinan adanya pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat di masa mendatang, namun hal tersebut bukan berarti Iran menerima seluruh pandangan atau tuntutan dari pihak lawan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social menyampaikan harapannya agar kesepakatan tersebut dapat mendorong gencatan senjata yang lebih luas, termasuk menghentikan konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.

Perjanjian AS-Iran terdiri dari 14 poin penting, di antaranya pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, larangan bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir, serta komitmen dana senilai 300 miliar dolar AS untuk membantu pemulihan ekonomi Iran tanpa kewajiban pendanaan dari pemerintah Amerika Serikat. Kesepakatan dalam bentuk Nota Kesepahaman (MoU) tersebut memberikan waktu maksimal 60 hari bagi kedua pihak untuk menyusun kesepakatan akhir.

Penandatanganan perjanjian dilakukan secara virtual sehingga agenda seremoni di Swiss dibatalkan. Meski demikian, delegasi dari kedua negara tetap akan melakukan pertemuan di Swiss untuk membahas langkah teknis berikutnya.

Kesepakatan tersebut mendapat kritik dari sejumlah pihak di Amerika Serikat, terutama dari anggota Partai Republik. Senator Bill Cassidy menilai kebijakan tersebut sebagai keputusan luar negeri yang buruk, khususnya karena adanya rencana bantuan untuk rekonstruksi Iran.

Menanggapi kritik itu, Wakil Presiden AS JD Vance membela perjanjian tersebut. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan mendapatkan bantuan maupun keringanan sanksi sebelum memenuhi sejumlah ketentuan, termasuk menghentikan program uranium yang diperkaya serta menghentikan dukungan terhadap kelompok sekutu Iran di kawasan.

Vance juga mengecam penolakan dari sejumlah pejabat Israel terhadap kesepakatan tersebut. Ia menilai Israel perlu menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat sebagai salah satu sekutu utamanya.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap menegaskan pentingnya mempertahankan hubungan dekat dengan Washington. Namun, kondisi keamanan di Timur Tengah masih belum sepenuhnya stabil setelah bentrokan antara Israel dan Hizbullah kembali terjadi dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia di Lebanon.

Tim Redaktur: Respon Radio
Sumber: mediaindonesia.com