RESPONRADIO.COM PADANG│IRAN — Pemerintah Iran mengonfirmasi tengah mengkaji proposal perdamaian yang didukung Amerika Serikat pada Rabu (6/5/2026). Langkah tersebut memunculkan harapan internasional terhadap kemungkinan berakhirnya konflik bersenjata yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah selama dua bulan terakhir.
Melalui kantor berita semiresmi ISNA, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Teheran saat ini sedang mempelajari draf proposal tersebut secara mendalam. Respons resmi disebut akan disampaikan melalui mediator Pakistan setelah pemerintah mencapai keputusan final.
Meski muncul sinyal positif dari pihak kementerian, dinamika politik internal di Iran disebut masih menunjukkan perbedaan pandangan.
Kantor berita Tasnim News Agency, yang dikenal dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC, mengutip seorang pejabat anonim yang menyatakan bahwa proposal terbaru dari Amerika Serikat masih memuat sejumlah klausul yang dianggap tidak dapat diterima oleh pihak Iran.
Pejabat tersebut bahkan menilai pemberitaan media Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya propaganda guna membenarkan posisi politik Presiden Donald Trump.
“Propaganda yang berkembang di media AS saat ini terutama bertujuan untuk membenarkan langkah penarikan diri Trump dari tindakan permusuhan yang belakangan dilakukan,” ujarnya.
Di Washington, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran berpotensi segera berakhir. Ia juga menjanjikan bahwa Selat Hormuz akan kembali terbuka bagi seluruh pihak apabila Teheran bersedia mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Namun demikian, Trump turut melontarkan peringatan tegas. Ia menegaskan bahwa apabila Iran menolak atau tidak mematuhi kesepakatan tersebut, Amerika Serikat siap melancarkan serangan baru dengan skala dan intensitas yang lebih besar dibanding sebelumnya.
Hingga kini, pihak Gedung Putih belum memberikan keterangan resmi tambahan terkait rincian laporan tersebut.
Kabar mengenai kerangka kerja perdamaian yang dituangkan dalam dokumen satu halaman tersebut langsung memicu gejolak di pasar komoditas global. Harga minyak mentah Brent Crude Oil bahkan sempat merosot hingga 11 persen ke bawah level US$98 per barel, yang menjadi posisi terendah sejak 22 April lalu.
Meski harga minyak kembali terkoreksi ke kisaran US$103 per barel atau turun sekitar 6,5 persen setelah unggahan Presiden Donald Trump di media sosial, sentimen pasar masih menunjukkan optimisme terhadap potensi meredanya konflik.
Di sektor keuangan, pasar saham Eropa turut mencatat penguatan signifikan. Indeks STOXX Europe 600 dan FTSE 100 masing-masing mengalami kenaikan sekitar 2,2 persen.
Terkait jalur perdagangan maritim, Iran menyatakan akan membuka akses transit aman di Selat Hormuz karena ancaman agresi dinilai telah berhasil dinetralisasi.
Namun demikian, Teheran menegaskan bahwa operasional di jalur tersebut nantinya akan mengikuti protokol baru, meski mekanisme detailnya hingga kini belum dijelaskan secara terbuka kepada publik.

