RESPONRADIO.COM PADANG│KUALA LUMPUR — Negara tetangga Indonesia, Malaysia, gencar melakukan diplomasi damai yang mendorong terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Melalui diplomasi damai dan dialog antar-pemimpin negara, Malaysia mempertegas citranya di mata dunia sebagai negara yang mengutamakan perdamaian. Langkah ini menunjukkan posisi strategis negeri jiran tersebut dalam merespons ketegangan konflik Iran secara diplomatik.
Menyusul serangan Israel ke Iran pada 28 Februari yang didukung Amerika Serikat, ketegangan di Timur Tengah kian meningkat. Sejak saat itu, Malaysia secara aktif mengeluarkan pernyataan resmi serta menggelar serangkaian dialog di tingkat pemimpin negara.
Berdasarkan catatan dan penelusuran ANTARA di Kuala Lumpur, sejak serangan itu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim langsung mengeluarkan pernyataan resmi.
Ia menyebut serangan Israel — yang dibekingi Amerika Serikat — terhadap Iran, membawa Timur Tengah ke ambang bencana.
Anwar Ibrahim memandang serangan itu sebagai upaya tercela untuk menggagalkan perundingan nuklir yang tengah berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.
Anwar kemudian mendesak Israel dan AS menghentikan serangan — yang menjadikan Malaysia sebagai salah satu negara ASEAN pertama yang bersuara atas peristiwa itu.
Serangan yang kemudian menewaskan pemimpin tertinggi Iran Khamenei itu disebut-sebut didukung operasi intelijen.
Anwar mengecam keras pembunuhan terhadap Ali Khamenei dan menyatakan belasungkawa kepada rakyat Iran. Dia menyatakan Israel dan AS semestinya sadar atas konsekuensi dari tindakannya.
Bagi Anwar, penargetan terhadap seorang pemimpin negara memunculkan preseden berbahaya dan melemahkan norma serta prinsip yang menopang tatanan internasional.
Lebih dari itu serangan terhadap sebuah negara berdaulat, menurut dia, melanggar undang-undang internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Merespons eskalasi yang kian memanas di Timur Tengah akibat serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Asia Barat, Kementerian Luar Negeri Malaysia segera mengambil langkah taktis. Prioritas utama saat ini adalah memastikan perlindungan dan keamanan seluruh warga negara Malaysia yang berada di wilayah terdampak konflik tersebut.
Upaya pemulangan dilakukan di tengah terdampaknya penerbangan internasional kala itu, sebagaimana juga dilakukan negara-negara lain termasuk Indonesia.
Dialog tingkat pemimpin
Menghadapi ketegangan geopolitik global, Anwar Ibrahim menunjukkan keaktifannya dalam berdiplomasi melalui komunikasi telepon antar-pemimpin negara. Pada 5 Maret 2026—tepat lima hari pascaserangan Israel-AS ke Iran—Anwar menghubungi Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, untuk mendiskusikan perkembangan situasi di kawasan tersebut.
Anwar menegaskan kembali bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Bersama Shehbaz Sharif, ia mendesak penghentian aksi saling serang serta menyerukan gencatan senjata segera tanpa syarat guna membuka jalan bagi perundingan.
Pada hari yang sama, Anwar turut menghubungi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk menyampaikan solidaritas Malaysia terkait insiden rudal balistik yang melintasi ruang udara Turki. Keduanya sepakat menyerukan agar semua pihak menahan diri demi meredam ketegangan di kawasan.
Dua hari kemudian, Anwar Ibrahim menghubungi Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, guna menyampaikan simpati atas dampak serangan balasan Iran terhadap pangkalan udara AS di wilayah tersebut. Selain memberikan dukungan moral, Anwar fokus memastikan keselamatan sekitar 10.000 warga Malaysia di UEA. Rentetan diplomasi telepon ini terus berlanjut dengan menghubungi pemimpin Qatar,
Bahrain, Kuwait, Oman, India, hingga Presiden RI Prabowo Subianto. Bahkan, dalam komunikasinya dengan Menlu Iran, Anwar menyatakan simpati sembari tetap teguh mendorong jalur diplomasi demi meredam konflik. Seluruh langkah ini diambil Anwar sebagai strategi ganda: menjaga keselamatan warganya sekaligus memitigasi potensi krisis ekonomi global.
Diplomasi telepon Anwar Ibrahim terus meluas hingga menjangkau PM Selandia Baru, PM Jepang Sanae Takaichi, PM Singapura Lawrence Wong, hingga PM Lebanon Nawaf Salam. Konsistensi Malaysia dalam mendorong gencatan senjata dan jalur diplomasi tetap menjadi pesan utama dalam setiap percakapan tersebut. Agenda yang paling menyita perhatian adalah rencana pertemuan tatap muka Anwar dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Jakarta pada Jumat (27/3) atas undangan resmi.
Menjelang keberangkatannya, Anwar memberikan pidato nasional yang disiarkan secara luas untuk menjelaskan posisi Malaysia terkait konflik Timur Tengah dan kebijakan energi domestik. Dalam pernyataan tersebut, ia secara khusus berterima kasih kepada Iran atas jaminan keamanan bagi kapal tanker Malaysia di Selat Hormuz, sembari menegaskan bahwa stabilitas di wilayah Teluk sangat krusial bagi kepentingan ekonomi dan investasi Malaysia. Publik kini menanti hasil pertemuan kedua sahabat tersebut yang diharapkan mampu memperkuat posisi kolektif Asia Tenggara di panggung global.

