RESPONRADIO.COM PADANG│SLEMAN — Kabupaten Sleman menorehkan capaian baru di sektor kesehatan dengan dinobatkan sebagai Kabupaten Siaga Stroke pertama di Indonesia. Penghargaan itu diberikan oleh Angels Initiative bersama World Stroke Organization Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan Sleman membangun sistem pelayanan stroke terintegrasi yang melibatkan pemerintah daerah, rumah sakit, tenaga medis, operator ambulans, hingga kader kesehatan masyarakat.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Angels Initiative dan World Stroke Organization Indonesia, Rika Aprijanti Hutagalung, kepada Bupati Sleman, Harda Kiswaya, di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman pada Senin (11/5).
Predikat ini menjadi langkah penting dalam penguatan penanganan stroke di Indonesia. Selama ini, stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Keterlambatan penanganan sering kali membuat pasien kehilangan kesempatan untuk memperoleh pemulihan yang maksimal.
Perwakilan Angels Initiative, Fiarry Fikaris, menyampaikan bahwa keberhasilan Kabupaten Sleman diraih melalui kolaborasi lintas sektor yang dibangun secara berkelanjutan selama beberapa tahun terakhir.
“Kolaborasi seluruh unsur yang terlibat serta dedikasi Tim Sleman Siaga Stroke berhasil membawa Kabupaten Sleman memperoleh pengakuan internasional dan menjadi Daerah Siaga Stroke pertama di Indonesia,” kata Fiarry.
Ia menjelaskan, sistem pelayanan stroke di Sleman tidak hanya terpusat di rumah sakit, tetapi juga memperkuat alur penanganan sejak pasien masih berada di tengah masyarakat. Kader siaga stroke dibentuk hingga tingkat puskesmas guna mendukung deteksi dini serta mempercepat penanganan pasien sebelum mendapatkan rujukan ke rumah sakit.
Langkah tersebut dinilai sangat penting karena penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan waktu. Dalam dunia medis dikenal istilah Time is Brain, yakni keterlambatan beberapa menit saja dapat meningkatkan risiko kerusakan otak permanen pada pasien.
Fiarry Fikaris menjelaskan, hingga 2026 terdapat enam rumah sakit di Sleman yang berhasil meraih predikat Rumah Sakit Siaga Stroke berstandar internasional. Rumah sakit tersebut yakni RSUD Sleman, RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RS JIH, RSIY PDHI, dan RS Hermina.
Keberadaan rumah sakit berstandar internasional tersebut semakin memperkuat sistem rujukan sehingga pasien stroke dapat memperoleh penanganan cepat sesuai standar medis yang berlaku.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, mengatakan penghargaan itu bukan sekadar capaian administratif, melainkan hasil komitmen bersama seluruh unsur pelayanan kesehatan di Sleman.
“Syukur alhamdulillah, melalui sinergi ini Sleman ditetapkan sebagai Kabupaten Siaga Stroke pertama di Indonesia. Ini merupakan pencapaian besar yang tidak hanya membanggakan Kabupaten Sleman, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk terus menjaga, meningkatkan, dan mempertahankan kualitas layanan kesehatan di Sleman,” ujarnya.
Menurut Harda, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan rumah sakit mitra, Sleman Emergency Service, tenaga kesehatan, hingga kader siaga stroke yang telah mendapatkan pelatihan khusus penanganan stroke di tingkat masyarakat.
Ia menilai sistem kolaboratif menjadi kunci utama dalam mempercepat penanganan pasien stroke. Pemerintah daerah juga terus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai gejala awal stroke agar pasien dapat segera memperoleh pertolongan medis.
Apresiasi turut disampaikan Pemerintah Daerah DIY. Kepala Dinas Kesehatan DIY, Anung Trihadi, yang membacakan sambutan Gubernur DIY, menyebut capaian Sleman dapat menjadi contoh nasional dalam membangun sistem siaga stroke berbasis daerah.
“Atas nama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, saya menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Kabupaten Sleman atas penghargaan sebagai Kabupaten Siaga Stroke pertama di Indonesia dari Angels Initiative dan World Stroke Organization,” kata Anung.
Ia berharap keberhasilan Sleman mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk membangun jaringan layanan stroke yang cepat, terintegrasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Penghargaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penguatan layanan kesehatan tidak hanya bertumpu pada fasilitas rumah sakit, tetapi juga kesiapan sistem secara menyeluruh, mulai dari edukasi masyarakat, layanan kegawatdaruratan, hingga koordinasi antar tenaga kesehatan.

