RESPONRADIO.COM PADANG│AMERIKA SERIKAT — Pimpinan Kennedy Center tengah mengupayakan penambahan nama Presiden Donald Trump pada gedung pusat seni pertunjukan tersebut di tengah krisis keuangan yang mengancam keberlangsungan operasionalnya. Dewan wali amanat dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada Selasa untuk menentukan kemungkinan penutupan gedung utama akibat masalah keuangan sekaligus kebutuhan perbaikan keselamatan bangunan.
Dokumen internal setebal 57 halaman memperingatkan bahwa Kennedy Center berpotensi tidak mampu membayar gaji karyawan maupun memenuhi kontrak pemeliharaan dalam beberapa pekan mendatang. Penyematan nama Trump dinilai dapat membantu menarik donatur dan tambahan dana. Sebelumnya, dewan yang ditunjuk Trump telah menyetujui perubahan nama menjadi “Trump-Kennedy Center”, tetapi keputusan tersebut diblokir pengadilan.
Krisis keuangan semakin parah setelah sejumlah seniman membatalkan konser menyusul pengambilalihan posisi pimpinan oleh Trump. Penjualan tiket juga dilaporkan merosot tajam, sementara Kennedy Center diproyeksikan hanya memperoleh pendapatan sekitar US$124 juta dari target anggaran US$220 juta. Lembaga tersebut juga mencatat defisit sekitar US$23 juta pada tahun fiskal sebelumnya meski telah melakukan efisiensi pengeluaran.
Selain persoalan finansial, kondisi bangunan turut mengalami kerusakan akibat badai parah awal September. Salah satu kerusakan terjadi di area Grand Foyer, berupa runtuhnya plester langit-langit berukuran sekitar 1,2 x 1,5 meter dari ketinggian 18 meter. Pihak Kennedy Center menyebut penambahan nama Trump telah menarik minat donatur baru dan dinilai penting untuk membantu pendanaan renovasi, sembari menyalahkan kurangnya pemeliharaan selama beberapa dekade sebelumnya.

