RESPONRADIO.COM PADANG│SELAT HORMUZ — Ketegangan di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia kembali meningkat setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penahanan dua kapal komersial di Selat Hormuz pada Rabu pagi. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam usai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan perpanjangan gencatan senjata secara sepihak.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa dua kapal yang diamankan adalah MSC Francesca dan Epaminondas. Pihak IRGC menyebut langkah tersebut diambil karena adanya dugaan pelanggaran aturan maritim. Saat ini, kedua kapal tersebut tengah diarahkan menuju pelabuhan Iran untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.
Aksi penyitaan tersebut mencerminkan eskalasi signifikan dalam kendali Teheran atas Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Peristiwa ini juga menjadi yang pertama sejak konflik kawasan pecah pada 28 Februari lalu, menandai meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran vital tersebut.
Ketegangan kian meningkat setelah badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya serangan tembakan terhadap dua kapal lainnya. Bahkan, kapal ketiga bernama Euphoria turut menjadi target dalam insiden tersebut.
Aksi ini diduga sebagai respons atas langkah Angkatan Laut Amerika Serikat yang sebelumnya menyita kapal Iran di Teluk Oman karena mencoba menembus blokade. Penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menegaskan bahwa perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Donald Trump tidak akan berarti selama tekanan ekonomi terhadap Iran masih terus berlangsung.
Meskipun Pakistan berupaya memfasilitasi perdamaian dengan menjadwalkan perundingan di Islamabad, peluang keikutsertaan Iran masih belum jelas. Laporan kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa tim negosiasi Iran menilai belum ada prospek untuk berpartisipasi dalam pembicaraan tersebut.
Sikap ini berkaitan dengan sejumlah hambatan dalam proses diplomasi, termasuk tuntutan yang dianggap tidak sejalan serta belum terpenuhinya prasyarat yang diajukan Teheran, seperti penghentian blokade. Akibatnya, Iran memilih menahan diri dari keterlibatan lebih lanjut dalam perundingan yang dimediasi Pakistan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menilai Washington menyampaikan sinyal yang tidak konsisten. Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang direncanakan memimpin delegasi AS masih menunggu kepastian dari pihak Teheran terkait keikutsertaan dalam perundingan.
Di tengah situasi tersebut, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, terus mendorong kedua pihak agar menahan diri. Ia menyatakan harapannya agar gencatan senjata tetap dipatuhi dan dapat berujung pada tercapainya kesepakatan damai yang menyeluruh.
Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengecam gangguan yang terjadi di Selat Hormuz dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa prinsip kebebasan navigasi tidak bisa ditawar dalam kondisi apa pun.
Di sisi lain, Inggris dikabarkan akan mengadakan konferensi militer darurat yang melibatkan perencana dari sekitar 30 negara. Pertemuan tersebut bertujuan merumuskan langkah strategis, termasuk opsi pembukaan kembali Selat Hormuz secara paksa apabila jalur diplomasi tidak menunjukkan perkembangan positif.

