Weathering With You, Hari Kartini dan Hari Bumi
RESPONRADIO.COM PADANG│PADANG PARIAMAN — Setiap 21 April, kita memperingati R.A. Kartini, seorang perempuan yang melawan logika di zamannya: bahwa perempuan harus tinggal di rumah, tidak boleh bersekolah, dan tidak boleh bersuara. Ia melawan dominasi itu.
Seratus dua puluh dua tahun kemudian, kita kerap mengira perjuangan itu telah usai. Namun Weathering With You (2019), karya Makoto Shinkai, mengingatkan bahwa logika dominasi belum mati, ia hanya bermetamorfosis. Kini ia tidak lagi berkata, “perempuan tidak boleh sekolah”, melainkan “perempuan boleh berkarya, asal tetap mengorbankan diri.” Ia juga tidak lagi berkata, “hutan harus dibabat”, tetapi “pembangunan harus terus berjalan meski alam perlahan mati.”
Film ini berkisah tentang Hina, seorang gadis yang mampu mengubah cuaca. Di puncak gedung pencakar langit Tokyo, ia merentangkan tangan; langit gelap terbelah, dan matahari pun muncul. Orang-orang bersorak. Namun Hina tidak ikut bersorak. Setiap kali ia menjadi “saluran” cuaca cerah, tubuhnya perlahan menghilang. Ia adalah weather maiden, perempuan dengan kuasa besar, tetapi kuasa itu bukan untuk dirinya. Ia dimanfaatkan, diberi imbalan, dan dijadikan mesin pencetak matahari demi kenyamanan orang lain.
Sementara Hina menghilang, Tokyo justru tenggelam dalam kegelapan. Kota yang dahulu merupakan teluk itu direklamasi manusia dengan keyakinan bahwa alam bisa ditaklukkan. Hujan tak pernah berhenti. Bukan karena alam marah, melainkan karena alam sedang kembali ke keseimbangannya. Namun manusia hanya bertanya, “Bagaimana menghentikan hujan?”, bukan “Mengapa ini terjadi?”
Ekofeminisme mengajarkan bahwa penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi terhadap alam berasal dari akar yang sama: logika dominasi. Logika ini membagi dunia menjadi subjek dan objek, pusat dan pinggiran, yang berhak dan yang tidak berhak. Laki-laki di atas perempuan. Manusia di atas alam. Yang pertama merasa berhak mendominasi, sementara yang kedua harus tunduk.
Weathering With You menampilkan dualisme ini dengan gamblang. Hina merepresentasikan “alam”, ia ditempatkan sebagai pihak yang harus dikorbankan demi kenyamanan pihak lain. Ia dikorbankan demi manusia Tokyo yang menginginkan matahari. Pada saat yang sama, alam (dalam wujud Tokyo yang tenggelam) juga dikorbankan demi peradaban yang merasa lebih berhak. Keduanya adalah korban dari logika yang sama.
Orang Minangkabau memiliki falsafah: Alam Takambang Jadi Guru. Alam yang berkembang, dalam seluruh prosesnya, adalah guru. Ia mengajarkan bahwa ada ritme yang tidak boleh dipaksakan, dan ada batas yang tidak boleh dilanggar. Falsafah ini tidak mengenal logika dominasi. Manusia bukan penguasa alam, melainkan murid yang terus belajar.
Jika film ini dibaca melalui kacamata tersebut, maka Tokyo yang tenggelam bukanlah sekadar bencana, melainkan pelajaran. Pertanyaannya bukan lagi “bagaimana menghentikannya?”, tetapi “apakah kita mau belajar?”
Hodaka, tokoh utama yang jatuh cinta pada Hina, pada akhirnya memilih Hina. Ia membiarkan Tokyo tenggelam. Ia menolak logika bahwa kebahagiaan banyak orang harus dibayar dengan pengorbanan satu tubuh perempuan. Dari sudut pandang Alam Takambang Jadi Guru, ia sedang berhenti melawan. Ia menerima bahwa alam memiliki jalannya sendiri. Dalam penerimaan itu, ia belajar, bahwa mencintai tidak berarti mengendalikan, dan menyelamatkan tidak berarti memaksa.
Kartini melawan logika dominasi. Ia memperjuangkan agar perempuan menjadi subjek atas hidupnya sendiri. Kita mungkin merasa perjuangan itu telah selesai. Namun Weathering With You mengingatkan bahwa logika dominasi hanya berganti wajah.
Kini ia tidak lagi berkata, “perempuan tidak boleh bekerja”, tetapi “perempuan harus menjadi penyembuh di tempat kerja, selalu tersenyum, tidak boleh lelah, dan harus mampu mengatur segalanya.” Ia juga tidak lagi berkata, “alam harus ditaklukkan”, tetapi “teknologi akan menyelamatkan kita, sehingga kita tak perlu mengubah gaya hidup.”
Perjuangan Kartini belum selesai. Ia baru benar-benar selesai ketika kita berhenti menjadi bagian dari sistem yang mendominasi, baik terhadap perempuan maupun terhadap alam. Sebab pembebasan perempuan dan pembebasan alam adalah satu perjuangan yang sama.
Di Hari Kartini ini, tanyakan pada diri sendiri: apakah saya masih menjadi bagian dari logika dominasi itu? Apakah saya menikmati kenyamanan yang dibayar oleh pengorbanan perempuan? Apakah saya menikmati kemudahan yang dibayar oleh kerusakan alam?
Alam Takambang Jadi Guru mengajarkan: alam tidak membenci, alam mengajar.
Weathering With You mengajarkan: dunia tidak akan selamat melalui pengorbanan, melainkan melalui pilihan untuk saling menjaga.
Selamat Hari Kartini. Dan esok, Selamat Hari Bumi.
Semoga kita berani memutus mata rantai logika dominasi, untuk selamanya. (LN)
Naskah: Leo Nababan – Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Padang
Editor: Team Respon Radio

