RESPONRADIO.COM PADANG│VATICAN — Paus Leo XIV menyampaikan kecaman terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan agama dan nama Tuhan demi kepentingan militer, ekonomi, maupun politik. Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (16/4), di tengah ketegangan yang sedang berlangsung antara dirinya dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam pernyataannya, Paus menegaskan kecaman keras terhadap tindakan yang menyeret hal-hal suci ke arah yang tidak semestinya demi kepentingan pribadi.
Meski disampaikan di Bamenda, Kamerun, pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah ia terlibat perbedaan pandangan secara terbuka dengan Trump terkait isu imigrasi dan konflik di Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo XIV melalui unggahan di Truth Social pekan lalu.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut Paus Leo sebagai sosok yang “lemah dalam menangani kejahatan” dan tidak baik dalam urusan kebijakan luar negeri. Ia juga membandingkan Paus dengan saudaranya, Louis, yang disebutnya lebih sejalan dengan gerakan politiknya.
Trump menegaskan ketidaksetujuannya terhadap pandangan Paus terkait sejumlah isu global. Ia menyatakan tidak menginginkan pemimpin Gereja Katolik yang dinilainya membenarkan Iran memiliki senjata nuklir atau mengkritik kebijakan Amerika Serikat, termasuk tindakan terhadap Venezuela dan kebijakan pemerintahannya sendiri.
Selain itu, Trump juga menyinggung bahwa dirinya menjalankan kebijakan sesuai mandat yang diperoleh dari kemenangan pemilu, sehingga tidak seharusnya mendapat kritik dari Paus.
Ia kemudian meminta Paus Leo untuk mengubah sikapnya, berhenti terlibat dalam isu politik, dan lebih fokus pada perannya sebagai pemimpin spiritual. Menurut Trump, keterlibatan dalam politik justru merugikan Paus secara pribadi maupun institusi Gereja Katolik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan kritiknya terhadap Paus Leo XIV dengan menyebut pemimpin Gereja Katolik tersebut lemah dalam menangani kejahatan, sebagaimana disampaikannya saat wawancara dengan wartawan.
Sementara itu, penasihat perbatasan Gedung Putih, Tom Homan, turut angkat bicara dengan meminta Paus agar tidak mencampuri urusan dalam negeri Amerika Serikat.
Homan menyatakan bahwa Gereja Katolik memiliki banyak persoalan internal yang perlu dibenahi. Ia, yang mengaku sebagai bagian dari Gereja Katolik, menilai lembaga tersebut sebaiknya fokus pada pembenahan internal dan tidak terlibat dalam ranah politik.
Ia juga berharap pihak Gereja bersedia mendengarkan penjelasannya terkait isu perbatasan, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan perbatasan terbuka.

